DAERAH
Sepenggal Kisah
Negeri 1001 Pulau
Semilir angin dan terik panas matahari menyengat seluruh badan, jarum jam kala itu masih menunjukan pukul sembilan pagi. Tapi keringat di kulit sudah mulai bercucuran. Sambil menunggu angkot di depan hotel Aston, Kupang, Nusa Tenggara Timur kami berbincang dengan staf hotel menanyakan destinasi apa yang menarik di pulau yang menjadi salah satu keajaiban dunia itu.“ Nanti kakak naik angkot saja, turun di Pertamina lalu sambung dengan angkot hijau, di sana ada Museum Negeri Kupang,” katanya.
Sedikit tidak paham apa yang dia maksud dengan Pertamina, berbekal ke sok tahuan kami langsung saja menaiki angkot berwarna putih dengan kernet yang berteriak“ Kupangkupang”. Dalam hati berkata,“ Iya saya sudah tahu ini di Kupang, mengapa masih teriak jurusan Kupang.”
Masuk ke dalam angkot kami disambut dengan dentum keras speaker di sepanjang kolong angkot. Ukuran angkot di sini memang lebih panjang dari angkot di Jakarta. Kalau di Jakarta bisa memuat sekitar 10 orang, disini bisa muat 12- 15 orang. Berhimpit-himpitan dengan penduduk lokal yang hitam manis, sambil merasakan dentuman lagu rock Inggris
lawas yang samar-samar seperti bahasa planet entah berada. Bising, tentunya menggangu pendengaran kami. Dentuman musik keras tidak hanya terasa di kedua telinga, tetapi sampai ke ulu hati.
Salah satu penumpang yang sadar akan ketidakyamanan kami, meminta supir untuk mengecilkan volume. Di perjalanan angkot, kami sulit melihat pinggir jalan, karena kaca ditutup oleh aneka stiker rock and roll. Ya sudah, kami akhirnya memutuskan untuk berhenti di pemberhentian terakhir karena tidak tahu maksud pertamina dari arahan staf hotel tadi.“ Ya Terminal Kupang, Kupang,” kata kernet.
Kami tiba di Terminal Kupang yang berada di Kelurahan Lailai Bissikopan dekat terminal, ada pantai dan lipatan meja kursi.“ Mungkin untuk orang berdagang di sore hari,” gumamku. Kami bertemu dengan Rizky( 22), mahasiswa Akuntansi Universitas PGRI, Kupang. Dia bilang, orang sini menyebut pom bensin itu sebagai Pertamina.“ Oh, pantas saja tidak ada kantor Pertamina yang kami lihat sepanjang jalan,” kata ku. Rizky memang masih muda, bisa dibilang dia salah satu anak yang beruntung bisa mengenyam pendidikan tinggi di tengah keterbatasan wilayah tersebut.“ Saya mau jadi guru kakak,” ujarnya.
Kami berbicara seputar beberapa universitas di sini, dan seputar Kupang. Sebagai informan, dia cukup baik menerangkan semua hal yang disebut berbeda antara Kupang dan Jakarta.“ Kalau mau ke museum, kakak naik angkot nomor 10 saja. Di sini angkanya tercantum di atas angkot,” ucapnya.
Kami mencoba mengamati seluruh bagian angkot dari jarak jauh. Ternyata benar, untuk melihat nomor jurusan angkot, harus ditengok ke bagian atas. Di sana ada semacam plang angka yang berdiri tegak di atas bagian depan. Berbeda dari angkot Jakarta yang menempel stiker angka pada kaca depan.
Sebelum beranjak menaiki angkot, kami mengunjungi beberapa toko kerajinan dan oleh-oleh dekat terminal. Kami bertemu dengan Pak Andreas, salah satu staf toko kerajinan.“ Tiara Art Shop” begitu plang nama toko itu terpampang. Mata sebelah kanan pak Andreas berwarna putih, tertutup katarak.
Beberapa sebelah mata orangorang tua di tanah dengan 1.192 pulau itu memang kebanyakan putih akibat katarak. Mungkin karena kebanyakan melaut di tengah teriknya matahari negeri timur itu.
Di toko tempat Pak Andreas bekerja, menjual aneka ragam kerajinan terutama batu.“ Ini fosil ikan, pada zaman dahulu Nabi Nuh tinggal di sini lalu dia membuat kapal dan negeri ini tenggelam. Semua ikan mati tertimpa reruntuhan batu. Di sini kita belah batunya dengan cetakan ikan,” jelasnya.
Tidak hanya ikan, di sana juga ada fosil cumi, dan udang. Harganya cukup fantastis. 100 ribu hingga 5 juta. Yang paling mahal batu besar yang dipercaya ada goresan sisik naga seharga Rp 5 juta.“ Kalau kami jualnya utuh saja, kalau mau dibelah, belah sendiri kami tidak menyediakan alat untuk membelah,” imbuhnya.
Di sepanjang etalase kami melihat aneka ragam kerajinan, mulai dari kain tenun, batu, fosil-fosil, gantungan, hingga miniatur alat musik khas NTT Sasando.“ Itu harganya 20 ribu saja Bu, tinggal dua, sudah diborong sama orang Bandung,” katanya.
Selesai membeli minatur Sasando, kami bergegas menaiki angkot 10 berwarna hijau. Sama seperti angkot sebelumnya, full music mengiringi perjalanan kami. Beruntung kali ini musik yang diputar musik pop Indonesia dengan volume sedang dan
28 VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016