Majalah Cakrawala Edisi 425 Tahun 2015 25 | Page 65
Fase Pengunduran Pasukan dan Dimulainya Perang
Gerilya
Sesuai instruksi dari pimpinan dalam pertempuran
tersebut, bila Panjang, Teluk Betung, dan Tanjung Karang
diduduki Belanda, maka seluruh pasukan ALRI diperintahkan
untuk mengundurkan diri, berkumpul di Kilometer 21
Kecamatan Gedongtataan sebagai basis pasukan dan markas
darurat ALRI. Setelah konsolidasi, dibentuk pasukan Induk
ALRI dan satu Seksi pasukan, dipimpin Letnan Abu Bakar
Siddik untuk membantu pertahanan Seksi Front Utara.
Setelah pasukan ALRI tersusun, Komandan Pangkalan I.A
mulai memimpin perang gerilya melawan Belanda di sektor
Front Selatan.
Pada akhir minggu kedua Januari 1949, militer Belanda
melancarkan serangan ke Gedongtataan. Penyerbuan
dilancarkan sejak pukul 06.00 dengan mengerahkan pasukan
dan bantuan pesawat-pesawat tempur. Menjelang pukul
12.00, Gedongtataan dikuasai militer Belanda.
Dengan jatuhnya Gedongtataan, posisi Markas ALRI
dipindahkan ke Desa Wilinti di kaki Gunung Sukmahilang.
Selama di Desa Wilinti, setiap hari pasukan melakukan patroli
dan bersama rakyat setempat membuat rintangan-rintangan
jalan dari Km. 21 sampai kampung Negeri Sakti.
Dalam suatu kesempatan, dua regu pasukan ALRI
telah melakukan penghadangan terhadap konvoi kendaraan
militer Belanda yang datang dari arah Gedongtataan menuju
Tanjung Karang, tepatnya di Km. 18. Dalam serangan
tersebut, pasukan ALRI berhasil menewaskan tiga serdadu
Belanda.
Kemudian, Markas dan Pasukan Induk ALRI dipindahkan
ke salah satu desa di sekitar perkebunan Way Lima, secara
bergiliran dengan pasukan AD mempertahankan pos
terdepan di Kampung Way Semah yang berjarak 1 km
dari kedudukan tentara Belanda di Gedongtataan. Saat Pos
Kampung Way Semah dipertahankan oleh pasukan ALRI
dari serangan tentara Belanda, peristiwa tersebut merupakan
pengalaman bertempur yang ketiga. Dalam penyerangan
ini, militer Belanda mengerahkan kekuatan tentaranya dari
Markas Gedongtataan. Pertempuran yang berlangsung 3 jam
ini, mengakibatkan gugurnya pasukan ALRI, yaitu Kopral
Moehidin dan Kelasi Satu Soetadji.
Pada bulan April 1949, Markas ALRI dipindahkan ke
kampung Kotadalam dan menempati tiga rumah rakyat.
Ditinjau dari strategi militer, letak Kampung Kotadalam
merupakan tempat rawan untuk basis pasukan, karena
berada di persimpangan jalan yang dapat ditempuh ke arah
Gadingrejo, Pringsewu, dan Gedongtataan serta banyak jalan
pintas. Pasukan AD ditempatkan di Kampung Guyuban dan
Kampung Way Layap.
Tugas pokok pasukan ALRI selama di Kampung Kota
dalam adalah melaksanakan patroli sampai ke daerah
perbatasan dan berfungsi sebagai pasukan bantuan bila
terjadi penyerangan dari pihak musuh terhadap sektor-sektor
pertahanan pejuang di Front Selatan.
Dalam rangka koordinasi komando, Komandan ALRI
Kapten C. Souhoka beserta beberapa orang perwira dan
bintara memperkuat Staf Koordinator pada Komandan
Koordinator Militer yang bermarkas di Kedondong,
sedangkan pasukan Induk ALRI sementara dipimpin oleh
Kapten K.L. Tobing.
Peristiwa Penyerangan Tentara Belanda terhadap
Pasukan ALRI di Kampung Kotadalam.
Pada hari Sabtu, 19 Mei 1949, atas bantuan mata-matanya,
tentara Belanda dari Pringsewu telah dapat menghindari
pertahanan pasukan ALRI di Kampung Guyuban dan
berhasil memasuki Kampung Kotadalam. Sekitar pukul 02.00
Wib, dua orang petugas jaga pasukan ALRI Sersan Agus
Djalil dan Sersan Marjono yang sedang berjaga di belakang
markas, tiba-tiba mereka melihat tentara Belanda yang akan
mengepung markas dan rumah yang ditempati pasukan
ALRI. Kedua petugas jaga tersebut langsung menembak ke
arah tentara Belanda. Tentara Belanda membalas tembakan
dan terjadilah pertempuran jarak dekat. Gugurlah Sersan
Agus Djalil dan S