HEADLINE mentoring hingga sistem non-monetary reward melalui penghargaan The Best Employee . Serta rasio terbesar sebanyak 70 % merupakan program pengembangan yang berfokus pada supervisi dan pengembangan karakter karyawan melalui pekerjaan yang dilakukannya sehari-hari di berbagai area penugasannya .
Pembekalan ini perlahan menumbuhkan rasa syukur dalam diri karyawan akan pekerjaan yang dilakukannya , menjadikan mereka bangga dengan profesinya , bahkan juga bangga menjadi orang Indonesia ( proud to be Indonesian ) sebagaimana yang menjadi basis dari budaya perusahaan di ISS Indonesia .
Di masa pandemi COVID-19 , karakter baik yang telah berkembang di dalam diri karyawan tentunya akan teruji . Ketika harus mengubah kebiasaan hidup dalam bekerja maupun berkegiatan sehari-hari , karakter ini sepatutnya bisa menguat . Hal ini seiring dengan tanggung jawab yang tidak sebatas kepada dirinya sendiri tetapi juga keluarga , pekerjaan , bahkan orang lain di sekitarnya . Dan itulah yang terjadi pada sekitar 200 karyawan ISS Indonesia yang bertugas di RS Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran , Tower 7 dan Tower 5 .
Membangun Purpose dalam Pelayanan di Wisma Atlet
Apa purpose atau tujuan Anda bekerja ? Banyak orang akan menjawabnya dari nilai yang ingin diberikan kepada keluarga , atau dari sudut kebutuhan materi . Misalnya , ingin menabung membeli rumah , ingin membiayai pendidikan anak atau adik , ingin membayar cicilan kendaraan , ingin membelikan orang tua perhiasan , dan sebagainya .
Namun bagaimana ketika tujuan bekerja diarahkan untuk beribadah , seperti halnya yang dibangun oleh ISS Indonesia dalam benak para front liners yang ditugaskan di RS Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran
Tower 7 dan Tower 5 .
Menugaskan para front liners ke area ini tentunya butuh lebih dari sekadar pembekalan sikap pelayanan ( service attitude ), keterampilan ( skill ) dan pengetahuan ( knowledge ), melainkan juga penekanan pada attitude yang mampu menguatkan karakter mereka untuk peduli dan ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya .
Bagaimana tidak ? Karena di samping area ini tergolong high risk yang berhadapan langsung dengan COVID-19 , para front liners juga diuji kesabarannya untuk menyesuaikan diri dengan Alat Pelindung Diri ( APD ) yang begitu membatasi , untuk tetap tinggal di area dan tidak pulang ke rumah atau bertemu dengan keluarga mereka selama jangka waktu berbulanbulan lamanya .
Sejak penugasan pertama di Tower 7 pada awal April lalu , 112 orang dari mereka bertugas selama 14 hari dan setelah itu diwajibkan melakukan karantina mandiri selama 14 hari , sebelum kembali bertugas lagi , dan begitu seterusnya . Demikian halnya pada 100 karyawan lain yang kemudian ditugaskan di Tower 5 pada pertengahan September lalu .
Namun begitu , penugasan ini nyatanya telah mampu menguatkan karakter mereka menjadi lebih peduli dan ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya . Seiring dengan keseharian mereka memberikan pelayanan kepada pasien COVID-19 , rasa empati mereka pun tumbuh . Mereka bahkan menganggap para pasien ini layaknya keluarga mereka sendiri .
Inilah bukti pencapaian purpose atau tujuan para front liners ISS Indonesia dalam bekerja untuk beribadah . Selain menjaga kesehatan dan keselamatan diri mereka sendiri dan orang lain di sekitarnya , mereka juga telah membantu mengantarkan kesembuhan bagi ribuan pasien COVID-19 di RS Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran .***
Vol . 5 - No . 19 | November 2020
9