GREAT LEADER
Pagi itu di hari Jumat ( 18 / 09 / 20 ), Tim Redaksi GREAT ISS bersama lebih dari 300 manager ISS Indonesia menghadiri pertemuan bulanan dalam Managers Communication Meeting . Ada tamu istimewa yang kami tunggu dalam sesi ‘ Leadership Talk ’ kali ini , yaitu Menteri Perhubungan RI , Budi Karya Sumadi .
Sejak mulai menjabat sebagai orang nomor 1 di Kementerian Perhubungan pada 27 Juli 2016 , Budi Karya Sumadi memang telah membawa sejumlah gebrakan melalui kebijakankebijakannya . Sebelum menduduki jabatan eksekutif pada pemerintahan Presiden Joko Widodo , sepak terjangnya dalam memimpin beberapa perusahaan milik negara maupun perusahaan daerah Provinsi DKI Jakarta juga telah menuai prestasi yang begitu berarti bagi masyarakat luas .
Sebut saja kehadiran Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang kini merupakan wajah Indonesia di gerbang utama perhubungan udara nasional dan internasional , sewaktu ia menjadi Direktur Utama PT Angkasa Pura ( AP ) II , atau revitalisasi taman kota Waduk Pluit dan Waduk Ria-Rio serta penyelesaian rumah susun sederhana sewa ( rusunawa ) di Marunda di masa ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Jakarta Propertindo ( Jakpro ), dan masih banyak lagi rekam jejak keberhasilannya yang lain .
Tak ayal , sosok kepemimpinan dari tokoh kelahiran Palembang , 18 Desember 1956 silam ini tentunya menjadi salah satu yang patut kita teladani . Lalu seperti apa kepemimpinan dari seorang Budi Karya Sumadi atau yang akrab disapa dengan BKS ini ? Tim Redaksi GREAT ISS mengulasnya dari cerita langsung dari sang menteri tentang pengalaman dan perspektif kepemimpinan bagi dirinya .
“ Satu hal yang menjadi suatu passion dari saya itu adalah bekerja untuk masyarakat .”
Arsitek lulusan Universitas Gadjah Mada , Yogyakarta ini mengawali kariernya sebagai Staf Departemen Real Estate pada Business Development Pembangunan & Property Management di PT Pembangunan Jaya Ancol pada tahun 1982 . Setelah lebih dari dua dekade lamanya mendedikasikan passion atau kecintaannya bekerja melalui kariernya , pada tahun 2004 , BKS kemudian mulai dipercaya untuk menjabat sebagai direktur utama dari perusahaan kawasan wisata waterfront terbesar di Indonesia ini .
“ Jadi sewaktu saya diangkat menjadi dirut ( direktur utama ), saya itu menghadap ibu saya yang sudah tidak bisa berjalan . ‘ Bu , saya itu diangkat menjadi Dirut Jaya Ancol .’ Oh , dia senang sekali . Jadi senang itu bukan karena secara finansial saya mendapatkan lebih dari yang sebelumnya , tetapi karena Ancol adalah suatu korporasi yang melayani dan memberikan sesuatu kepada masyarakat banyak . Satu hal yang menjadi suatu passion dari saya itu adalah bekerja untuk masyarakat . Saya menangis di depan ibu saya dan ibu saya bangga , dan menurut saya kebanggaan seorang ibu itu lebih dari segalanya .”
BKS yang menahkodai anak perusahaan dari Ciputra Group sampai dengan pertengahan tahun 2013 ini mengira kalau kariernya di PT Pembangunan Jaya Ancol , Tbk saat itu adalah destinasi terakhirnya . Namun keberhasilan kepemimpinannya telah memikat Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sewaktu masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta waktu itu . Di akhir tahun 2013 , BKS lalu dipercaya untuk memimpin di Jakpro , sebuah Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD ).
“ Saya pikir Ancol adalah destinasi terakhir saya , setelah itu saya cukup bekerja biasa . Tapi jalan menentukan lain , Pak Ahok panggil untuk saya bekerja untuk bekerja di Jakarta Propertindo . Berjalan , saya juga enjoy , punya pemimpin namanya Pak Ahok dan Pak Jokowi karena yang
Vol . 5 - No . 19 | November 2020
15