INOVASI
GREEN OFFICE
SEBUAH INOVASI
YANG TERUS PERLU
DIGAUNGKAN
Pernahkah Anda mendengar istilah green office? Mungkin pernah. Tapi apakah
Anda memahami makna dari istilah itu? Apakah Anda memahaminya sebagai
kantor yang serba berwarna hijau? Atau kantor yang penuh dengan pohon-
pohon? Kalau Anda punya pendapat seperti itu, sayangnya itu pemikiran yang
tidak benar. Lalu apa bedanya dengan Green House?
Berbeda. Green House adalah bentuk bangunan
yang berdinding dan beratap transparan yang
biasa dipakai untuk lokasi menanam tumbuh-
tumbuhan.
Green office adalah sebuah konsep. Ya, konsep
kantor yang ramah lingkungan. Jadi, bukan
hanya produk-produk saja yang bisa menjadi
ramah lingkungan. Kantor pun bisa mengadopsi
konsep ramah lingkungan. Konsep ini memang
belakangan mulai menjadi tren di beberapa
kantor dan gedung atau komplek perkantoran.
Beberapa lokasi dan gedung di Jakarta dan BSD
sudah menerapkan konsep ini selama beberapa
tahun. BSD Green Office Park di Serpong dan
Perkantoran Hijau Arkadia di kawasan Segitiga
Emas Kuningan adalah dua dari sedikit gedung
perkantoran yang sudah menerapkan konsep
ini. Jadi, konsep ini memang bukan hal yang
baru. Tapi, hingga saat ini masih sangat sedikit
kantor yang menerapkan konsep ini. Artinya,
konsep ini masih relevan baru dalam hal
penyelamatan lingkungan.
Bagaimana sebenarnya konsep green office
itu? Dalam konsep green office semuanya
diatur dan ditata agar bisa mendukung
konsep ramah lingkungan. Misalnya untuk
penerangan, konsep green office menerapkan
gaya arsitektur interior yang memungkinkan
lebih banyak cahaya matahari bisa maksimal
ke dalam ruangan-ruangan. Tujuannya
meminimalisasi penggunaan cahaya dari lampu.
Untuk pengatur suhu ruangan (Air Conditioner/
AC), konsep ini mengakomodir udara luar bisa
masuk leluasa dan dengan menempatkan
pohon-pohon yang rindang agar ruangan tetap
sejuk tanpa AC.
Apakah cukup hal-hal seperti itu saja? Belum.
Itu baru dari sisi eksternal perusahaan. Artinya
perlu adanya dukungan dari para karyawan
yang bekerja di dalam gedung tersebut
(internal). Ini menyangkut pola pikir (mindset)
dari para karyawan itu sendiri.
Pola pikir yang mengarah pada kesadaran
pada hal-hal yang menyangkut konsep ramah
lingkungan harus terus digaungkan oleh
manajemen perusahaan. Sifatnya bukan hanya
top-down (atasan-bawahan), tapi juga peers
(rekan kerja sejajar) dan bottom-up (staf hingga
pimpinan). Karena itu, berkantor di gedung
dengan konsep green office tidak otomatis
orang yang bekerja di dalamnya sadar akan
pemeliharaan lingkungan bila pola pikirnya
tidak bisa atau mau berubah.
Apa saja yang perlu diperhatikan? Mudah
saja sebenarnya. Dalam mencetak hasil kerja,
misalnya, akan bijaksana bila menggunakan
kertas bekas yang masih kosong di satu sisi.
Atau mencetak secara bolak-balik, serta
mencetak hitam-putih lebih baik daripada yang
berwarna (bila tidak mendesak).
Kenapa masalah kertas bisa menjadi
terhubung dengan persoalan lingkungan.
Karena kertas diproduksi dari pohon-pohon
di hutan. Sebanyak 15 rim kertas ukuran A-4
diproduksi dari sebuah pohon besar berusia 10
tahun. Jadi tinggal dihitung saja bila sebuah
kantor menghabiskan 150 rim A4 dalam
sebulan berarti perusahaan tersebut secara
tidak langsung menebang 100 pohon. Bisa
dibayangkan kalau ada 100 perusahaan yang
melakukan hal itu. Mengerikan? Tanyalah pada
hati nurani Anda.
Tata cahaya ruang rapat sebaiknya diatur secara
otomatis (melalui sensor ruangan) sehingga
lampu di dalam ruangan tersebut akan mati
dengan sendirinya bila tak ada orang di
dalamnya. Begitu juga dengan AC, otomatis
berhenti bekerja bila tak ada kegiatan di dalam
sebuah ruangan rapat atau kerja.
Belakangan juga ada sebuah inovasi yang
disebut Internet of Thing (IoT) – lihat GREAT
edisi no. 4 – yang memungkinkan segala
perangkat keras di dalam sebuah kantor bisa
saling terhubung melalui perangkat lunak atau
internet. Keterhubungan ini memungkinkan
penghematan di berbagai sektor dalam sebuah
kantor. Bangku dan meja di dalam ruangan
rapat bisa menjadi sensor keberadaan manusia
yang akan mengatur on/off lampu dan AC.
Itulah sekelumit konsep green office yang
seharusnya diperhatikan oleh kita semua bila
hati nurani kita masih peduli dengan kondisi
lingkungan yang akan kita wariskan kepada
anak cucu kita di masa depan. Konsep ini akan
terus terasa menjadi inovasi selama masih banyak
orang yang belum peduli. Pertanyaan terakhir
yang perlu direnungkan, “apakah kita akan
mewariskan generasi penerus kita nanti dengan
kenyamanan atau kesengsaraan?” Jawabannya
terletak dari tindakan kita hari ini, ya hari ini,
jangan tunda, pedulilah pada lingkungan!*
Vol.2 - No. 05 | Mei 2017 | GREAT ISS
37