Great ISS Mei 2017 | Page 37

INOVASI GREEN OFFICE SEBUAH INOVASI YANG TERUS PERLU DIGAUNGKAN Pernahkah Anda mendengar istilah green office? Mungkin pernah. Tapi apakah Anda memahami makna dari istilah itu? Apakah Anda memahaminya sebagai kantor yang serba berwarna hijau? Atau kantor yang penuh dengan pohon- pohon? Kalau Anda punya pendapat seperti itu, sayangnya itu pemikiran yang tidak benar. Lalu apa bedanya dengan Green House? Berbeda. Green House adalah bentuk bangunan yang berdinding dan beratap transparan yang biasa dipakai untuk lokasi menanam tumbuh- tumbuhan. Green office adalah sebuah konsep. Ya, konsep kantor yang ramah lingkungan. Jadi, bukan hanya produk-produk saja yang bisa menjadi ramah lingkungan. Kantor pun bisa mengadopsi konsep ramah lingkungan. Konsep ini memang belakangan mulai menjadi tren di beberapa kantor dan gedung atau komplek perkantoran. Beberapa lokasi dan gedung di Jakarta dan BSD sudah menerapkan konsep ini selama beberapa tahun. BSD Green Office Park di Serpong dan Perkantoran Hijau Arkadia di kawasan Segitiga Emas Kuningan adalah dua dari sedikit gedung perkantoran yang sudah menerapkan konsep ini. Jadi, konsep ini memang bukan hal yang baru. Tapi, hingga saat ini masih sangat sedikit kantor yang menerapkan konsep ini. Artinya, konsep ini masih relevan baru dalam hal penyelamatan lingkungan. Bagaimana sebenarnya konsep green office itu? Dalam konsep green office semuanya diatur dan ditata agar bisa mendukung konsep ramah lingkungan. Misalnya untuk penerangan, konsep green office menerapkan gaya arsitektur interior yang memungkinkan lebih banyak cahaya matahari bisa maksimal ke dalam ruangan-ruangan. Tujuannya meminimalisasi penggunaan cahaya dari lampu. Untuk pengatur suhu ruangan (Air Conditioner/ AC), konsep ini mengakomodir udara luar bisa masuk leluasa dan dengan menempatkan pohon-pohon yang rindang agar ruangan tetap sejuk tanpa AC. Apakah cukup hal-hal seperti itu saja? Belum. Itu baru dari sisi eksternal perusahaan. Artinya perlu adanya dukungan dari para karyawan yang bekerja di dalam gedung tersebut (internal). Ini menyangkut pola pikir (mindset) dari para karyawan itu sendiri. Pola pikir yang mengarah pada kesadaran pada hal-hal yang menyangkut konsep ramah lingkungan harus terus digaungkan oleh manajemen perusahaan. Sifatnya bukan hanya top-down (atasan-bawahan), tapi juga peers (rekan kerja sejajar) dan bottom-up (staf hingga pimpinan). Karena itu, berkantor di gedung dengan konsep green office tidak otomatis orang yang bekerja di dalamnya sadar akan pemeliharaan lingkungan bila pola pikirnya tidak bisa atau mau berubah. Apa saja yang perlu diperhatikan? Mudah saja sebenarnya. Dalam mencetak hasil kerja, misalnya, akan bijaksana bila menggunakan kertas bekas yang masih kosong di satu sisi. Atau mencetak secara bolak-balik, serta mencetak hitam-putih lebih baik daripada yang berwarna (bila tidak mendesak). Kenapa masalah kertas bisa menjadi terhubung dengan persoalan lingkungan. Karena kertas diproduksi dari pohon-pohon di hutan. Sebanyak 15 rim kertas ukuran A-4 diproduksi dari sebuah pohon besar berusia 10 tahun. Jadi tinggal dihitung saja bila sebuah kantor menghabiskan 150 rim A4 dalam sebulan berarti perusahaan tersebut secara tidak langsung menebang 100 pohon. Bisa dibayangkan kalau ada 100 perusahaan yang melakukan hal itu. Mengerikan? Tanyalah pada hati nurani Anda. Tata cahaya ruang rapat sebaiknya diatur secara otomatis (melalui sensor ruangan) sehingga lampu di dalam ruangan tersebut akan mati dengan sendirinya bila tak ada orang di dalamnya. Begitu juga dengan AC, otomatis berhenti bekerja bila tak ada kegiatan di dalam sebuah ruangan rapat atau kerja. Belakangan juga ada sebuah inovasi yang disebut Internet of Thing (IoT) – lihat GREAT edisi no. 4 – yang memungkinkan segala perangkat keras di dalam sebuah kantor bisa saling terhubung melalui perangkat lunak atau internet. Keterhubungan ini memungkinkan penghematan di berbagai sektor dalam sebuah kantor. Bangku dan meja di dalam ruangan rapat bisa menjadi sensor keberadaan manusia yang akan mengatur on/off lampu dan AC. Itulah sekelumit konsep green office yang seharusnya diperhatikan oleh kita semua bila hati nurani kita masih peduli dengan kondisi lingkungan yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita di masa depan. Konsep ini akan terus terasa menjadi inovasi selama masih banyak orang yang belum peduli. Pertanyaan terakhir yang perlu direnungkan, “apakah kita akan mewariskan generasi penerus kita nanti dengan kenyamanan atau kesengsaraan?” Jawabannya terletak dari tindakan kita hari ini, ya hari ini, jangan tunda, pedulilah pada lingkungan!* Vol.2 - No. 05 | Mei 2017 | GREAT ISS 37