GARDU ASPIRASI (GARASI) EDISI 48 / JANUARI 2014 | Page 25

Sahabat Parlemen pemimpin,’’ kata Ramadhan. Namun, lanjut dia, masih sedikit pemimpin yang mau memudahkan akses masyarakat pada dirinya. ‘’Kalau saya, saya punya facebook, twitter, website hingga instagram. Bahkan, di Medan dan sekitarnya ada call center.’’ Menurut dia, era digital sekarang dimama ICT menjadi dominan, juga mengubah strategi dalam sistem politik dan pemerintahan. ‘’Informasi menjadi deras, akses sedemikian terbuka, tidak ada lagi hal yang bisa ditutupi.’’ Sementara itu, dua seminar lainnya digelar di Deli Serdang, tentang KPI dan sebuah seminar kebangsaan di IAIN. Seminar KPI mengambil tema ’’Literasi Media dan Penyiaran Media yang Sehat,’’ digelar pada Sabtu (21/12). Dengan dihadiri 130 orang peserta seminar mengundang nara sumber Drs Ramadhan Pohan, MIS (wakil ketua Komisi I DPR RI),. Mazdhalifah Ph.D (dosen Fak. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU), serta H Fajar A.Isnugroho,M.Si (komisioner KPI Pusat). Moderator dalam seminar tersebut adalah Dr Syafruddin Pohan, pengurus dari KPI provinsi Sumatera Utara. Ramadhan dalam salah satu pemaparannya mengatakan, KPI harus memperketat kinerjanya. Misalnya, terhadap siaran yang berbau mistik. Siaran itu sangat tidak mendidik bagi masyarakat apalagi anak-anak. ’’Film hantu itu sangat tidak mendidik. Apalagi film hantunya ada adegan pornografi. Itu sangat tidak baik,’’ tegasnya. Kemudian, Ramadhan juga menekankan pada KPI untuk mengontrol setiap siaran agar siaran tersebut terarah dengan jelas dan teratur. Setelah selama 90 menit ketiga narasumber memberikan pemaparan dalam seminar, lalu moderator memberikan kesempatan pada peserta. Hal yang ditanya kebanyakan mengenai penyiaran politik. Seperti yang dipertanyakan oleh ibu Susi. Ia menanyakan hal tersebut karena Ibu Susi merasa risih dengan hal tersebut. ’’Kan belum kampanye, kenapa sudah ada iklan kampanye?.’’ Lalu pihak KPI yang diwakili oleh H. Fajar A. Isnugroho M.Si menjelaskan, KPI telah menegur stasiun televisi yang melanggar tentang peraturan pemilu yang berhubungan denga kampanye. Setelah sesi tanya jawab selesai, Ramadhan Pohan memberi kesimpulan bahwa masa depan anak, masa depan kita. ’’Itu tergantung dari lingkungan sekitar, termasuk juga dengan media,’’ katanya. Maka, KPI harus melakukan kontrol lebih ketat pada media agar media itu dapat dikonsumsi oleh publik secara baik dan bijak. Sementara itu, Seminar di Fak. Usuluddin IAIN Sumatera Utara mengambil tema tentang ’’Menatap Masa Depan Indonesia yang Sukses Bermartabat Menuju 2014’’. Seminar dilangsungkan di ruang Pusbinsa IAIN Sumatera Utara, Sabtu, (21/12). Seminar menampilkan pembicara Faisal Riza, MA (dosen IAIN), Drs Ramadhan Pohan, MIS (wakil ketua Komisi 1 DPR RI), serta M. Yasser, calon legislatif dari Partai Bulan Bintang. Moderator oleh Ferry, S.Sos, alumni Fakultas Usuluddin IAIN Sumatera Utara. Seminar diawali dengan pemaparan dari narasumber pertama yaitu Faisal Riza, MA. Beliau menjelaskan bahwa politik itu merupakan pendekatan. ’’Saya tak menyangka bisa ketemu dengan politikus idaman saya, Ramadhan Pohan,’’ ungkapnya. (bik/bowo) Perkenalkan Program Pemerintah BAGI Muhammad Azhari, anggota Komisi VI DPR RI, reses atau libur selalu diisi dengan kegiatan bersama konstituen. Di sini, ia lebih mementingkan kegiatan berupa sosialisasi program-program kepenerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. ‘‘Banyak sekali program Pak SBY yang tidak diekspos oleh media. Padahal banyak sekali dan sangat pro rakyat,’’ katanya di selasela kesibukannya di Dapilnya, Kabupaten Bogor. Sebagai contoh, ia dengan gencar mengunjungi daerah minus dan bermasalah. Salah satu indikatornya mudah yakni tingginya angka perceraian. Ternyata, di beberapa wilayah, dibanjiri bank gelap alias rentenir. ‘‘Memerangi praktik rentenir yang memprihatinkan itu menjadi fokus saya,’’ kata anggota dewan yang juga pengurus Kadin ini. Ada 100 desa yang sudah dia garap, memperkenalkan program KUR (Kredit Usaha Rakyat). Program KUR, dengan bunga yang sangat rendah, adalah salah satu keberhasilan Presiden SBY. Dana proram itu, cukup besar, yakni Rp 35 triliun pada tahun 2013. Dan, pada 2014 lebih besar lagi yakni Rp 40 triliun. Kenapa ringan dan anti-rentenir? Sebab, program ini bagi pesertanya mendapat jaminan dari program Jaminan Kredit Indonesia yang ditopang oleh pemerintah sebesar Rp 2 triliun hingga Desember 2013. ‘‘Program-program sukses seperti ini ka