Campus Guide Jakarta - Edisi Perdana Febuary 2015 | страница 65

OJK Berikan Kuliah Umum di Universitas Bakrie Oleh: Yuliniar Lutfaida D engan semakin banyaknya bank yang muncul di Indonesia, semakin dibutuhkan pula keprofesionalan yang lebih tinggi guna mendukung kinerja perbankan di Indonesia. Guna mengatur dan mengawasi kinerja perbankan, pada tahun 2011 dibentuklah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pentingnya fungsi OJK ini disampaikan dalam kuliah umum bertajuk “Membuka Akses Serta Melindungi Masyarakat Terhadap Produk Keuangan” pada Jumat (23/12) di Universitas Bakrie. Acara yang di moderatori oleh Dosen Prodi Ilmu Akuntansi Idrus Mahidin ini bertujuan untuk memberikan wawasan pada mahasiswa mengenai tujuan, fungsi, dan wewenang OJK sebagaimana diatur dalam Undang Undang. Hal ini dikarenakan peran pengawasan di sektor jasa keuangan yang sebelumnya dilakukan oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan kini menjadi seluruhnya kewenangan OJK. Kuliah umum disampaikan oleh Sri Rahayu Widodo selaku Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK. Ia menyatakan, OJK diamanatkan untuk melindungi kepentingan konsumen. Untuk itu, lanjutnya, OJK melaksanakan dua program strategis, yakni membangun sistem perlindungan konsumen keuangan yang terintegrasi dan melaksanakan pendidikan keuangan yang komprehensif. Tidak hanya dengan Bank Indonesia, OJK juga melakukan koordinasi dengan Pemerintah dalam menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. Hal ini yang dinamakan lintas koordinasi antarsektor, tidak hanya dengan Pemerintah namun juga dengan lembaga keuangan lainnya seperti Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pemimpin Muda Beri Kuliah Umum Komunikasi Politik di UMN Oleh: Yuliniar Lutfaida Banteng memiliki masalah alam yang belum terkelola secara maksimal. “Saya mencoba melakukan pendampingan baik dari NGO luar, produksi naik 250 kg per tahun,” ungkapnya. Melihat keadaan kepempimpinan di masing-masing daerah ini, Budiman Tanuredja coba mengurai bahwa adanya sedikit pergeseran dalam kepempimpinan sekarang dibandingkan dengan kepempimpinan terdahulu. “Dulu militer selalu dianggap sumber kepemimpinan, tapi sekarang ada perubahan orientasi publik, bahwa sebetulnya kepempimpinan daerah itu menjadi lumbung kepempimpinan skala nasional,” kata Budiman. Ia pun berpendapat bahwa pada masa mendatang pemimpin daerahlah yang akan menjadi bakal kepempimpinan nasional dan memiliki karakter pemecah masalah yang inovatif. FEBRUARI 2015 | CAMPUS GUIDE Foto : Dok. Istimewa B eberapa pemimpin muda Indonesia berbagi pengalaman dan pandangannya soal kepemimpinan pada kuliah umum Komunikasi Politik pada Jumat (19/12) di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang. Pembicara yang memberikan pandangannya terhadap kepempimpinan adalah Walikota Bogor Bima Arya, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, dan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredja. Bima Arya yang mendapat kesempatan pertama mengemukakan bahwa menjadi pemimpin berarti harus sadar bahwa orang berharap banyak kepada kita. “Memimpin adalah seni mengelola harapan,” kata walikota yang juga akademisi tersebut. Menurutnya, setiap pemimpin  perlu sehingga warga merasa bahwa pemimpinnya bekerja. Lalu ia mencontohkan, program kerja cepatnya adalah pembenahan di Bogor. Berbeda dengan keadaan Bogor, Bantaeng aslinya merupakan daerah yang tertinggal. Namun, dengan pengelolaan yang benar, masyarakat di Bantaeng pun bisa diberdayakan untuk mengelola wilayah yang berada di selatan Pulau Sulawesi tersebut. Nurdin Abdullah mengemukakan bahwa 63