Bluebird - Mutiarabiru Mutiarabiru Magazine - Maret 2018 | Page 70

Timeout A Way of Life Bagi Arifin Putra, seni peran adalah bisnis serius yang amat menjanjikan sekarang ini. Akting bukan sebuah pekerjaan, tapi sebuah way of life dan kemungkinan besar akan saya jalani terus untuk selamanya memakai berbagai macam topeng dan bisa menjadi siapa saja. Tidak ada yang tidak mungkin. Seperti anak kecil begitu ditanya mau jadi apa mereka percaya bisa jadi apa saja. Nah sebagai aktor itu justru kenyataan sehari-hari saya. Saya bisa jadi siapa saja dan apa saja. Nama Arifin Putra mencuat melalui film The Raid 2: Berandal (2014), tapi karier aktingnya sudah dimulai jauh sejak tahun 2004 ketika dia main di serial TV Kisah Kasih di Sekolah. Sebagai aktor, dia tergolong pemilih. Pemenang Piala Maya Awards dan Indonesian Movie Actor Awards ini siap tampil dengan karya-karya barunya tahun ini. Simak obrolan Mutiara Biru dengan aktor berdarah Jerman ini. Dengan maraknya film Indonesia sekarang, apakah aktor sudah bisa dijadikan profesi menjanjikan? Mungkin harus dibedakan antara aktor TV dan aktor film. Kalau aktor TV dari tahun 90-an sampai sekarang sudah menjadi pekerjaan yang sangat menjanjikan. Kalau aktor film baru mulai menjanjikan sejak tahun 2005. Mulai tahun 2017, menurut saya industri perfilman Indonesia sudah mulai benar-benar menjadi industri yang mapan, di mana sebelumnya masih terkesan industri independen. Kesibukan apa yang sedang dikerjakan sekarang? Saat ini saya baru saja menyelesaikan syuting untuk film bergenre SCI-FI action berjudul FOXTROT 6 dan sempat membantu dalam video klip Isyana yang berjudul “Lembaran Buku”. Juga sedang dalam persiapan untuk film drama baru yang akan syuting bulan April nanti. Sayangnya, saya belum bisa banyak bicara mengenai detail dan judulnya. Apa karya terbaik kamu sejauh ini dan mengapa? Ini pertanyaan yang sangat subjektif ya. Tapi kalau film yang saya paling enjoy proses syutingnya adalah film THE RAID 2. Saya banyak belajar di film ini, kerja sama dengan Gareth Evans juga sangat menyenangkan. Terus terang, ini adalah pengalaman pertama saya main film dengan skala sebesar itu hingga ditayangkan di seluruh dunia. Ada kegiatan lain di luar film? Saya aktif membantu WWF Indonesia dengan menjadi Duta DSCP (Dugong and Seagrass Conservation Project) Indonesia. Terakhir, saya aktif sebagai produser untuk digital content, di mana kami membuat webseries untuk berbagai Website dan Digital Magazine di Indonesia. Kabarnya kamu juga seorang traveler. Destinasi mana saja yang paling berkesan? Saya sudah keliling ke berbagai negara di Eropa, Turki, Asia Tenggara dan Nepal. Sampai sekarang Nepal yang paling berkesan karena di sana saya benar-benar menyaksikan kemegahan alam dan merasakan betapa kecilnya manusia di hadapan alam. Apa pendapat kamu tentang profesi seni peran? Awalnya, saya ikut hanya sekadar untuk menambah uang saku. Tapi begitu mengikuti sekolah acting SAS (Sakti Aktor Studio) dengan guru Bang Eka Sitorus, saya langsung jatuh cinta dengan seni peran dan serius menekuninya. Saya juga terus belajar dan berusaha mengembangkan diri secara berkelanjutan. Sebagai warga Jakarta, ke mana saja kamu biasa jalan-jalan di luar urusan pekerjaan? Saya tidak terlalu suka nightlife, jadi saya paling suka makan di restoran yang enak atau cari kopi yang unik. Salah satu spot favorit saya minum kopi di coffee shop di gedung tertinggi di Indonesia pada saat sunset. View-nya luar biasa banget. Apa yang menarik tentang pekerjaan akting? Bagi saya, akting bukan sebuah pekerjaan, tapi sebuah way of life dan kemungkinan besar akan saya jalani terus untuk selamanya. Kita bisa Apakah kamu pernah menggunakan jasa Blue Bird/Silver Bird, dan jika pernah apa tanggapannya? Pernah dong. Selama ini aman tenteram sentosa. 68 Mutiara Biru