Timeout
A Way of
Life
Bagi Arifin Putra, seni peran adalah bisnis serius
yang amat menjanjikan sekarang ini.
Akting bukan sebuah pekerjaan, tapi sebuah
way of life dan kemungkinan besar akan saya
jalani terus untuk selamanya
memakai berbagai macam topeng dan bisa menjadi siapa saja. Tidak
ada yang tidak mungkin. Seperti anak kecil begitu ditanya mau jadi
apa mereka percaya bisa jadi apa saja. Nah sebagai aktor itu justru
kenyataan sehari-hari saya. Saya bisa jadi siapa saja dan apa saja.
Nama Arifin Putra mencuat melalui film The Raid 2: Berandal (2014), tapi
karier aktingnya sudah dimulai jauh sejak tahun 2004 ketika dia main
di serial TV Kisah Kasih di Sekolah. Sebagai aktor, dia tergolong pemilih.
Pemenang Piala Maya Awards dan Indonesian Movie Actor Awards
ini siap tampil dengan karya-karya barunya tahun ini. Simak obrolan
Mutiara Biru dengan aktor berdarah Jerman ini. Dengan maraknya film Indonesia sekarang, apakah aktor
sudah bisa dijadikan profesi menjanjikan?
Mungkin harus dibedakan antara aktor TV dan aktor film. Kalau aktor
TV dari tahun 90-an sampai sekarang sudah menjadi pekerjaan yang
sangat menjanjikan. Kalau aktor film baru mulai menjanjikan sejak
tahun 2005. Mulai tahun 2017, menurut saya industri perfilman
Indonesia sudah mulai benar-benar menjadi industri yang mapan,
di mana sebelumnya masih terkesan industri independen.
Kesibukan apa yang sedang dikerjakan sekarang?
Saat ini saya baru saja menyelesaikan syuting untuk film bergenre SCI-FI
action berjudul FOXTROT 6 dan sempat membantu dalam video klip
Isyana yang berjudul “Lembaran Buku”. Juga sedang dalam persiapan
untuk film drama baru yang akan syuting bulan April nanti. Sayangnya,
saya belum bisa banyak bicara mengenai detail dan judulnya. Apa karya terbaik kamu sejauh ini dan mengapa?
Ini pertanyaan yang sangat subjektif ya. Tapi kalau film yang saya paling
enjoy proses syutingnya adalah film THE RAID 2. Saya banyak belajar di
film ini, kerja sama dengan Gareth Evans juga sangat menyenangkan.
Terus terang, ini adalah pengalaman pertama saya main film dengan
skala sebesar itu hingga ditayangkan di seluruh dunia.
Ada kegiatan lain di luar film?
Saya aktif membantu WWF Indonesia dengan menjadi Duta DSCP
(Dugong and Seagrass Conservation Project) Indonesia. Terakhir, saya
aktif sebagai produser untuk digital content, di mana kami membuat
webseries untuk berbagai Website dan Digital Magazine
di Indonesia. Kabarnya kamu juga seorang traveler. Destinasi mana saja
yang paling berkesan?
Saya sudah keliling ke berbagai negara di Eropa, Turki, Asia Tenggara
dan Nepal. Sampai sekarang Nepal yang paling berkesan karena di
sana saya benar-benar menyaksikan kemegahan alam dan merasakan
betapa kecilnya manusia di hadapan alam.
Apa pendapat kamu tentang profesi seni peran?
Awalnya, saya ikut hanya sekadar untuk menambah uang saku.
Tapi begitu mengikuti sekolah acting SAS (Sakti Aktor Studio) dengan
guru Bang Eka Sitorus, saya langsung jatuh cinta dengan seni peran
dan serius menekuninya. Saya juga terus belajar dan berusaha
mengembangkan diri secara berkelanjutan. Sebagai warga Jakarta, ke mana saja kamu biasa jalan-jalan di
luar urusan pekerjaan?
Saya tidak terlalu suka nightlife, jadi saya paling suka makan di restoran
yang enak atau cari kopi yang unik. Salah satu spot favorit saya minum
kopi di coffee shop di gedung tertinggi di Indonesia pada saat sunset.
View-nya luar biasa banget.
Apa yang menarik tentang pekerjaan akting?
Bagi saya, akting bukan sebuah pekerjaan, tapi sebuah way of life dan
kemungkinan besar akan saya jalani terus untuk selamanya. Kita bisa Apakah kamu pernah menggunakan jasa Blue Bird/Silver Bird,
dan jika pernah apa tanggapannya?
Pernah dong. Selama ini aman tenteram sentosa.
68
Mutiara Biru