an. Ada sepasang insan yang sudah bertunangan.
Kemudian karena terjadi sebuah konflik, akhirnya
pertunangan mereka gagal. Oleh karena itu si pria
meminta kembali pemberiannya (berupa hadiah
lamaran). Bagaimana hukumnya ustadz?
Jawaban :
Wa’alaikumussalam Warahmatullah. Semo-
ga kita senantiasa ditetapkan oleh Allah
sebagai
Mukmin yang selalu menjalankan ketaatan. Amin.
Mengenai permasalahan di atas yaitu tentang pe-
narikan kembali hadiah lamaran, maka terdapat
tafshil. Bila yang memutuskan tunangan adalah dari
pihak perempuan maka diperbolehkan. Adapun
sebaliknya, jika yang memutuskan pertunangan
adalah dari pihak pria, maka tidak boleh mengam-
bil hadiah yang sudah diberikan sebagai pemberi-
an lamaran tadi. Adapun Imam Ramli, beliau ber-
pendapat bahwa boleh bagi seseorang pelamar
untuk mengambil hadiah lamarannya secara mut-
lak. Wallahu A’lam.
Kembalian Permen
Assalamu’alaikum, Ustadz saya punya satu
pertanyaan. Mungkin seringkali hal ini terjadi di
masyarakat ketika bertransaksi di mall atau di mar-
ket terdekat. Dalam hal ini yang saya maksudkan
adalah kembalian berupa permen. Apakah hukum
kembalian tersebut dalam Islam? Terimakasih
Jawaban :
Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Semoga rahmat
Allah
selalu menyertai kita semua. Amin. Per-
tanyaan saudara sangat bagus. Memang kejadian
ini sering terjadi di masyarakat umum. Namun ke-
banyakan mereka memang belum mengetahui hu-
kum dari transaksi tersebut. Baiklah, dalam hal ini
(kembalian berupa permen) hukumnya diperbole-
hkan. Sementara hukum transaksi permen tersebut
masuk dalam akad jual-beli yang baru.
MASAIL DINIYAH 29
Hukum Menjual Beras Campuran
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ustadz, biasanya
penjual-penjual beras di pasar sering meraup keun-
tungan lebih dengan mencampur beras mahal den-
gan beras murah. Akan tetapi, percampuran antar
beras tersebut tidak terlihat oleh pandangan (tidak
nampak jelas) saking cerdiknya penjua tersebut.
Bagaimanakah hukum menjual beras yang dicam-
pur tersebut.
Jawaban :
Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Semoga lang-
kah-langkah kita diridhai oleh Allah
. Menjual
beras campuran tersebut sudah jelas merugikan
bagi pihak konsumen. Memang jika kita lihat, ban-
yak sekali penjual-penjual yang melakukan hal ini
demi meraup keuntungan yang berlebih. Akan teta-
pi, perlu diketahui bersama bahwa hukum menjual
beras campuran tersebut tidak diperolehkan kecua-
li dengan sepengetahuan konsumen.