Test Drive | Página 72

outlook ekonomi 2015 Menelisik Optimisme BCA di Tahun 2016 72 Dari Musim Semi Menuju Keemasan Sepuluh tahun lalu (2004-2013) merupakan musim semi bagi perekonomian Indonesia. Dimana, dalam satu dekade itu perusahaan-perusahaan di tanah air mengalami pertumbuhan penjualan menggembirakan yang mencapai lebih dari tiga kali lipat. S ebut saja Unilever Indonesia. Kala itu, penjualan perusahaan yang bergerak di sektor customer goods ini meningkat 3,4 kali lipat – pada 2004 mencapai Rp8,98 triliun dan meningkat jadi Rp30,76 triliun di 2013. Selain itu, Indofood naik dari Rp17,92 triliun pada 2004 menjadi Rp57,73 triliun atau 3,2 kali lipat pada 2013. Disusul dengan Astra Internasional meningkat 4,4 kali lipat dan Mayora 8,7 kali lipat. Data The Economist juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bertengger pada posisi 6 besar, di bawah India, China, Filipna, Pakistan dan Malaysia, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,7 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini jauh meninggalkan Amerika Serikat yang mencapai perumbuhan ekonomi sebesar 2,0 persen. Jika pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2015 mencapai 4,67 persen dari kuartal pertama sebesar 4,72 persen, maka pada kuartal ketiga pertumbuhan ekonomi mengalami pemulihan yaitu mencapai 4,73 persen. “Ini merupakan indikasi awal turn around. Kita harap 2016 ekonomi kita membaik. Walaupun masih kecil peningkatannya, namun saya kira titik balik akan terjadi,”ujar Komisaris Independen Bank Central Asia (BCA), Cyrillus Harinowo dalam diskusi “Economic Outlook” di sela-sela acara Media Sharing Knowledge BCA di Kuningan, Jawa Barat, Desember 2015. Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA Neraca perdagangan, kata Cyrillus, juga mengalami perbaikan. Neraca perdagangan selama dua kuartal terakhir menunjukkan surplus sedangkan defisit transaksi berjalan juga mulai membaik. “Neraca perdagangan kita terus surplus. Bahkan yang unik itu, neraca perdagangan untuk mobil dan komponennya selama dua bulan terakhir sudah mulai surplus. Industri baja juga surplus. Defisit transaksi berjalan juga mulai membaik,”ujarnya. Khusus untuk otomotif, kata Cyrillus, akan terus mengalami surplus yang semakin lama akan semakin besar. Cyrillus mengakui masih terjadi pelemahan ekspor Indonesia. Namun hal itu lebih disebabkan oleh penurunan harga-harga komoditas. Ia mencontohkan, harga migas mengalami penurunan sebesar 50 persen. Hal itu juga diikuti harga batubara, dan sawit. Namun, ekspor manufaktur Indonesia tumbuh baik. “Ke depan, prospek ekspor Indonesia akan membaik dari sisi volume maupun harganya,”ujarnya. Prospek 2016 Melihat indikator di atas, Cyrillus yakin bahwa perekonomian Indonesia yang telah berada pada musim semi siap menuju era keemasan. “Dengan fakta ini, secara relatif kita jauh lebih baik dari negara-negara lain. Dari data ini saya mengatakan bahwa kita menuju keemasan,”ujarnya. Optimisme tersebut tentu ada dasarnya. Ada sejumlah prospek yang dimiliki Indonesia sepanjang 2016 dan tahun-tahun berikutnya. Cyrillus mengatakan, investasi dan konsumsi pemerintah yang akan terjadi sejak awal tahun 2016 akan menimbulkan dampak multiplier yang lebih baik pada perekonomian. Hal ini misalnya terjadi pada penjualan semen. Penjualan semen pada Juli 2015 mencapai 4,66 juta ton meningkat per Agustus menjadi 5,37 juta ton dan pada September mencapai 5,79 juta ton. Penjualan semen ini akan terus mengalami peningkatan sepanjang 2016, seiring dengan banyaknya proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah. Pembangunan infrastruktur akan mengalami percepatan luar biasa. Sebut saja pembangunan MRT, LRT, Double Tracking, Tol SumateraJawa, dan pelabuhan laut dan udara. Hal ini tentu akan memacu industri semen, baja dan pada akhirnya berdampak positif bagi perekonomian. Apalagi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah menargetkan bahwa jalan dari Palembang hingga Pasuruan akan tersambung pada 2018. “Pergerakan infrastruktur bergerak cepat. Saya yakin pada 2016 akan bergerak bagus,”ujar Cyrillus. Ia menyebutkan, ada sejumlah faktor pendukung optimisme ekonomi Indonesia pada 2016. Faktor itu antara lain, inflasi yang cenderung rendah, neraca transaksi berjalan membaik, APBN lebih sehat, belanja pemerintah yang cepat, adanya stimulus paket kebijakan ekonomi pemerintah, stimulus moneter oleh Bank Indonesia edisi 122 - 2016 | Property&Bank | www.propertynbank.com dan stimulus keuangan oleh OJK, serta OJK yang mempermudah dan mempermurah penerbitan obligasi. Sedangkan sejumlah faktor luar negeri yang turut menjadi pendukung antara lain adanya kepastian kenaikan Fed Funds. ’’Eropa dan Jepang masih dalam kondisi stabil dengan moneter longgar. Sementara itu, stimulus moneter dan fiskal di Tiongkok membuahkan hasil,’’ ujarnya. Karena itu, Cyrillus memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 akan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi tahun 2015, yaitu sebesar 5,3 persen. Menurut riset BCA, katanya, inflasi pada 2016 berada pada posisi 4,1 persen, dan suku bunga acuan BI rate 6,5 persen. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang lebih baik akan memberikan dorongan pada pertumbuhan kredit yang lebih tinggi. Meskipun, pemberian kredit juga masih dipengaruhi beberapa faktor lain selain pertumbuhan ekonomi nasional. “Optimisme pertumbuhan tahun depan ini kami tangkap melalui pemberian pinjaman kredit. Kalau kredit itu tergantung dua hal yaitu permintaan sama kesediaan dana kita. Kalau soal dana kita siap, tinggal permintaannya saja,” ujarnya. Dia mencontohkan, pemberian kredit perbankan pada tahun ini sempat mengalami perlambatan di awal tahun. Namun, ketika proyek infrastruktur pemerintah mulai dijalankan, pertumbuhan kredit juga mulai bergerak naik. “Pembangunan infrastruktur di awal pemerintah yang lambat karena ada transisi politik. Itu membuat permintaan kredit juga sedikit menurun di semester I tapi untuk semester II mulai meningkat,” terangnya. Lanjut Harinowo, rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) sudah mulai menunjukkan peningkatan. Hal tersebut menunjukan adanya pengembangan dana melalui kredit menjadi lebih tinggi. “LDR BCA biasanya di bawah 75 persen, sekarang ini sudah ada di angka 78 persen. Artinya pengembangan dana BCA melalui pemberian kredit jadi X