demikian ujar Bejo Rudianto, seusai
audiensi dengan Ketua Umum DPP
Partai Golkar Aburizal Bakrie di
Jakarta, Jumat (13/12) bulan lalu.
Melalui sayap dan jajaran di
bawahnya, MKGR terus menggalang
dukungan dan penguatan bagi Partai
Golkar. Langkah tersebut dilakukan
karena MKGR sendiri bukan peserta
pemilu dan bukan organisasi politik.
Akan tetapi, langkah-langkah MKGR
dipastikan dapat memberikan
kekuatan bagi proses pemenangan
Partai Golkar nanti. “Kami mencoba
merangkul semua elemen masyarakat
yang ada, terutama mereka yang
merasa kurang nyaman bila
bergabung dengan Partai Golkar
secara langsung,” ujarnya kepada
suara Golkar.
Dalam rangka penyuksesan Partai
Golkar pada pemilu mendatang,
MKGR juga membentuk kelompok
penguat bagi Partai Golkar melalui
Gerakan Perempuan MKGR, Generasi
Muda MKGR, Himpunan Mahasiswa
MKGR, Himpunan Kiai MKGR, pormas
MKGR, Badan Kesehatan MKGR,
Himpunan sopir-sopir angkot, hingga
pedagang-pedagang di pasar induk.
“Intinya mereka dapat memberikan
penguatan kepada Golkar secara
taktis pada pemilu mendatang,”
ujarnya.
Penguatan-penguatan
ormas
MKGR dilakukan dengan menyamakan
strategi MKGR dengan Partai Golkar.
Hal itu untuk mendukung setiap
upaya menggalang dukungan kepada
konstituen terutama generasi muda.
“Bagi kami, gerakan anak-anak
muda harus menjadi pilar utama
bagi MKGR sekaligus Partai Golkar
untuk membangun bangsa. Strategi
yang paling sederhana menggaet
anak muda adalah dengan membuat
mereka merasa nyaman dengan
aktivitas yang mereka senangi selama
ini. Bukan membawa hal-hal yang
njelimet soal politik,” tuturnya.
MKGR juga mengkampanyekan
Visi Negara Kesejahteraan 2045
sebagai bagian dari upaya
penyelarasan dengan partai Golkar.
Visi ini adalah konsep penting
yang sangat memudahkan kaderkader MKGR untuk menyampaikan
apa langkah Golkar di masa yang
akan datang. Golkar ingin menang,
karena ada konsep yang hendak
dikembangkan,
diaktualisasikan
sebagai program dan kebijakan.
Konsep ini membawa dua strategi
yang memudahkan kader untuk
bersosialisasi. Pertama menyangkut
gagasan membangun perangkat desa
dan konsep nasionalisme baru.
“Konsep membangun perangkat
dari desa, sangat mempermudah
kader-kader MKGR yang sedang
nyaleg untuk merespons kegundahan
perangkat-perangkat desa. Misalnya
soal pertanyaan mereka tentang
bagaimana Undang-Undang Desa
akan dilaksanakan, bagaimana
perhatian
dan
kesejahteraan
perangkat desa? Dengan visi ini kami
bisa menjawab, Golkar berada di posisi
terdepan untuk memperjuangkan
mereka melalui konsep membangun
dari desa. Visi Negera Kesejahteraan
adalah konsep yang mudah dijelaskan
kepada masyarakat tanpa perlu
paham detail pasal per pasal. Namun
cukup dipahami konsepnya, pahami
filosofinya,” jelas caleg DPR RI nomor
4 dari Dapil 6 Jawa Tengah ini.
Saat ini terdapat 28 kader MKGR
yang duduk di parlemen. Pada
pemilu 2014 mendatang, MKGR
memberangkatkan lebih dari 100
kadernya sebagai caleg di semua
tingkatan (sa)
67