PO Fasilkom UI Buletin PO 2018/2019 Genap | Page 14

Tidak ada berita yang menyebutkan proses Hankey sebagai seorang yang menerima Kristus. Saat umur 18 tahun Hankey pindah ke London dan mengajar Alkitab kepada wanita-wanita yang bekerja di pabrik. Hankey benar-benar sangat bersemangat dalam mengabarkan Alkitab kepada orang-orang. Ketika Hankey berumur 30 tahun ia mengalami sakit yang sangat serius dan ia disuruh oleh dokternya untuk beristirahat selama 20 bulan. Meskipun ia harus berbaring di atas ranjang selama itu ia tidak lantas berhenti dari “hobinya” tersebut. Dalam kondisi tersebut ia menulis puisi yang sangat panjang. Puisinya berisi tentang kerinduan dia dalam memberitakan kabar sukacita atau menuturkan cerita mulia yaitu Yesus dengan kemuliaan dan Kasih-Nya. Puisi Hankey terdiri atas 2 bagian yaitu The Story Wanted dan The Story Told. Dari puisi ini terciptalah sebuah lagu yaitu I Love To Tell the Story sekitar 10 bulan setelah puisi ini diselesaikan. Ia juga membuat nadanya meskipun mengalami beberapa koreksi ketika diiringi dengan music. Pada saat itu salah satu peserta adalah musisi Gospel Amerika bernama William H. Doane, yang telah merancang lebih dari 2000 lagu Gospel. Doane pun dengan segera merancang setting musik dari teks himne Hankey. Kemudian seorang pengatur musik mengubah setting musik Doane tadi. Ia adalah William Gustavus Fischer, lahir di Baltimore, Maryland tanggal 14 Oktober 1835 dan meninggal pada 13 Agustus 1912 di Philadelphia, Pennsylvania. Ia jugalah yang menambahkan bagian refrain dari lagu I Love To Tell the Story. Tahun 1875 himne ini muncul di Bliss and Sankey’s Collection. Lagu yang kita dengar sekarang. Pada tahun 1867 pada sebuah konvensi internasional di Montreal, Kanada, seorang pembicaranya bernama Mayor Jenderal Russell dari Inggris secara emosional pada kalimat penutupnya menekankan kepada para delegasi konvensi sebuah kalimat yang Russell kutip dari teks himne Hankey. Inspire 12 Buletin PO Fasilkom Foto William Gustavus Fischer