Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 414 Tahun 2013 | Page 99
(ATOC), di mana digunakan kanal
suara
untuk
memperlihatkan
rata-rata temperatur laut. Sistem
ini digunakan untuk penelitian
mengenai faktor temperatur laut.
Akibatnya terhadap hewan-hewan
di laut terbukti bahwa mereka
bergerak menjauh (terutama paus
jenis tertentu), namun selang
beberapa saat mereka kembali
untuk mencari makanan. Deruman
dari speaker yang dipasang
berkekuatan 220 desibel tepat di
sumbernya, dan terdeteksi sampai
dengan 11.000 mil jauhnya.
Dari penyebab tersebut
terdapat juga penyebab lainnya,
salah satunya adalah kegiatan
perikanan para nelayan yang
menggunakan
peledak
atau
pukat harimau yang tidak hanya
menimbulkan polusi suara namun
juga merusak secara langsung
ekosistem di laut itu sendiri.
KEBISINGAN LAUT SEBAGAI
GANGGUAN BAGI MAMALIA
LAUT
Keterbatasan
ilmu
pengetahuan mengenai perkiraan
resiko terhadap mamalia laut
banyak
asumsi.
Contohnya
mamalia laut dengan pendengaran
berdasarkan
range
tertentu
akan sangat dipengaruhi oleh
suara. Mamalia laut yang tidak
berkelompok memiliki resiko lebih
mudah diserang.
Dapat diasumsikan bahwa
tidak ada konsekuensi biologi
dari akibat suara yang keras
ketika tidak ada respon kelakuan
ditemukan. Bagaimanapun dalam
penelitian ini perlu dipehatikan
kelakuan mamalia laut sebagai
informasi dari pengaruh kebisingan
laut tersebut.
Hasil dari data yang telah
dikumpulkan di mana kebisingan
suara di laut telah menimbulkan
efek jangka pendek termasuk
dalam
memangsa
makanan,
bersosialisasi
dan
vokalisasi
serta perubahan perilaku dalam
cara menyelam. Akibatnya suara
dapat menyebabkan mamalia laut
berpindah dari habitatnya sendiri.
Paus yang terdampar akibat
sonar bisa dilihat dari trauma
fisiknya, seperti pendarahan otak,
telinga dan jaringan dalam lainnya.
Penyebab lain terganggunya
navigasi paus adalah kondisi
cuaca, penyakit (virus, luka di
otak, parasit di telinga dan sinus),
aktifitas seismik bawah air (atau
gempa bawah air/seaquakes),
anomali medan magnetik, topografi
dasar laut yang tidak dikenal
mereka.
Namun
pada
akhirnya,
tergantung
bagaimana
kita
bertindak saat paus terdampar.
Jarak paus yang terdampar dengan
keberadaan masyarakat sekitar
sangat menentukan kelangsungan
Teknologi terisnpirasi dari mamalia laut dan
dikembangkan menjadi sebuah teknologi yang
namanya Sonar.
hidup mereka. Termasuk juga
menggerakkan masyarakat, dan
memberi kesadartahuan yang
cukup bagi masyarakat untuk
menolong mereka saat terdampar.
Selain
sonar
kapal
besar
industrial,
perubahan
iklim juga diduga kuat andil
yang
menyebabkan
paus
mati. Pemanasan global yang
disebabkan peningkatan suhu air
laut, alhasil kadang memengaruhi
perubahan suhu di lapisan kolom
air di kedalaman. Suhu kedalaman
yang dulu ‘cocok’ sebagai jalur
navigasi paus, bisa jadi menjadi
jalur ‘baru’ di kedalaman lebih
dangkal.
TEKNOLOGI MILITER
Ada beberapa aktivitas
yang dilakukan militer yang
menghasilkan
sumber
suara
yang menimbulkan kebisingan
di laut. Sebuah kapal perang
pernah mengembangkan suatu
sistem yang dinamakan Low
Frequency Active Sonnars (LFA)
untuk keperluan militernya. Dalam
penggunaannya, terbukti bahwa
terdapat beberapa efek negatif
terhadap kehidupan dan perilaku
mamalia di lautan. Terhadap
ikan paus efek tersebut ternyata
mengganggu jalur migrasi, dan
untuk jenis ikan paus biru dan
ikan paus sirip adalah terhentinya
proses komunikasi satu sama
lain. Bahkan setelah melalui
beberapa
penelitian,
maka
pengunaan LFA tersebut juga
berpengaruh terhadap kesehatan
manusia. Beberapa penyelam
yang menerima transmisi dari
sekitar 160 desibel akibat sistem
tersebut terbukti terkena gangguan
seperti vertigo, gangguan terhadap
gerakan tubuh serta gangguan
di daerah perut dan dada.
Kesimpulannya, Apakah kematian
massal ikan paus disebabkan oleh
teknologi kapal perang? Seberapa
bahayakah konvoi kapal perang
bagi keselamatan ikan paus?©
Cakrawala Edisi 414 Tahun 2013
99