Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 414 Tahun 2013 | Page 91
D
ihadapan Sang Ibu Dewi
Kunthi, Bratasena, Satria
Pendawa
yang
gagah
perkasa menyampaikan gundah
gulana yang memetengi hatinya.
Ia
sedang
teringat
Swargi
Ayahandanya,
Prabu
Pandu
Dewanata yang saking tresnanya
kepada Dewi Madrim, akhirnya
harus mendiami dasar neraka
di
Candradimuka,
gara-gara
bersumpah kepada Batara Guru
yang memiliki tetunggangan Lembu
Andini. Mohon maaf beribu maaf
sebelumnya Batara Guru, sebagai
seorang Raja sekaligus sebagai
seorang suami, rasanya tak layak
bila hamba tidak bisa mengabulkan
permintaan istri tercinta yang
sedang
ngidam.
Keinginan
istri hamba ingin meminjam
tetunggangan Batara Guru, ya
Lembu andini, apapun resiko dan
dosanya, sekalipun harus berada
di dasar neraka, hamba sanggup
untuk membayarnya. Begitulah
awal muasalnya, mengapa Pandu,
orang tua para Ksatria Pandawalambang kebenaran dan kebaikan,
harus
menerima
ganjaran
menghuni dasar neraka, setelah
anak kembar mereka Nakula dan
Sadewa lahir ke dunia. Maka tak
lama kemudian Pandu dan Dewi
Madrim menerima hukuman.
Sebagai
sang
anak
yang
mencintai
Bapaknya,
maka
kegusaran
Werkudara
ditumpahkan mak byur….kepada
Dewi Kunti. Sang Dewipun
akhirnya
memberikan
pitutur
kepada Werkudara yang sempat
marah dan mengumpat para
dewata. Menurut Sang Bima, para
dewata tidak adil, melupakan jasa
Bapaknya saat membebaskan
Kadewatan dari marabahaya. Lalu
untuk apa para dewa disembah
bila mereka tidak bisa berlaku
adil? Bimapun merasa hidupnya
tiada guna, kalau akhirnya malah
dilupakan oleh para dewata.
Kepada Pendita Durna,
Sang Guru yang amat sangat
dihormatinya, Werkudara pun
menyampaikan unek-unek yang
menyesak dadanya. Keinginannya
adalah mencari ilmu sejati Sangkan
paraning dumadi.
We….lha dalah! Mblegudug
manyar-manyar...Kalau memang
itu keinginanmu Bratasena maka
carilah Kayu Gung Susuhing
Angin di Gunung Reksamuka
dan Banyu Suci Perwitasari ing
telenge samudra minang kalbu.
Itulah arahan Pandito Durna
kepada Bima. Perintah Dorna
tadi merupakan hal yang tak
mungkin dicapai oleh manusia,
namun singkat ceritanya, justru
arahan Durna yang bermaksud
mempersulit Bratasena, malah
menyebabkan Bratasena berhasil
menemukan jati dirinya. Maka
Sang Dewa Ruci pun akhirnya
memberi perintah agar Werkudara
yang sudah menemukan jati
dirinya itu , menjadi Pandita jejuluk
Bima Suci.
Kehebatan
Sang
Bima
Suci menebar ajaran luhur ilmu
Sangkan
Paraning
Dumadi
membuat banyak pengikut yang
menjadi cantrik di Arga Kilasa,
bahkan Junggring Salaka pun turut
bergetar, turunlah Batara Guru
dan Narodo ke mayapada untuk
bertemu Werkudoro.
Karena kedigdayaan Bima
Suci menjawab pertanyaan Batara
Guru, maka kepadanya diberikan
sesuatu yang sangat berharga bagi
Bima pribadi. Namun pemberian
tersebut awalnya ditolak oleh
Bima, dan karena didesak terus
oleh Batara Guru, maka Bima
suci akhirnya mau menerimanya,
namun dipisungsungkan bagi
bapaknya Pandu dan Dewi
Madrim, yang berada di dasar
candradimuka. Oleh Batara Guru
permintaan Bima Suci dikabulkan,
sehingga sejak saat itu Pandu dan
Madrim diangkat ke swarga loka.
SIKAP BIMA TERHADAP DURNA
Sudah menjadi lakon Sang
Pendita Durna dalam dirinya
lebih berpihak ke Kurawa, namun
Sang Bima tidak pernah berubah
sikap
hormatnya
terhadap
Bapak Gurunya itu. Bahkan saat
Durna disia-siakan oleh Duryana
dan Kurawa, Bima langsung
memboyong Durna ke Arga Kilasa.
Sikap hormat kepada Sang
Guru inilah sangat patut diteladani.
MENGAPA HARUS HORMAT
KEPADA DURNA?
Dalam pewayangan, kita
tidak bisa hanya melihat sosok
demi sosok secara terpotongpotong
atau
terkotak-kotak.
Karena wayang yang mengajarkan
kepada kita tentang baik-buruk,
salah-benar, harus dilihat secara
keseluruhan, in big picture.
Keberadaan masing-masing tokoh
yang antagonis itu harus ada.
Ibarat matahari dan planet-planet
yang mengelilinginya, saling tarik
menarik dan jika tidak ada proses
tarik menarik, maka jagad raya ini
akan sirna dan hampa.©
Cakrawala Edisi 414 Tahun 2013
91