Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 70

INFO 70 SEJUMLAH ALASAN MENGAPA KITA BERGURU KEPADA SUN TZU Ya, mengapa kita harus berguru kepada Sun Tzu? A khir-akhir ini pemberitaan diberbagai media massa baik di media elektronik, media cetak, maupun online seolah berlomba menyuguhkan informasi. Walaupun jika dinilai dari bobot beritanya tak layak dikonsumsi publik, namun ketika dikemas dengan menggunakan strategi komunikasi yang tepat, maka berita yang paling sederhana sekalipun akan mampu menciptakan opini publik yang sanggup mengguncang kestabilan sebuah negara. Demikian hal yang dirasakan oleh bangsa Indonesia saat ini. Dulu bangsa Indonesia dikenal dunia sebagai bangsa yang beradab, pemberani, ramah dengan budi pekerti dan tata krama yang luhur, sehingga bangsa-bangsa di dunia menaruh rasa segan dan hormat yang begitu besar. Sejak belum lahirnya negara Indonesia pada zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kebesaran pengaruh dan keberaniannya demikian kuat memengaruhi negara-negara lain di dunia. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya situs dan peninggal sejarah yang diyakini para ahli sejarah bahwa sejak dulu bangsa Indonesia telah berhasil melakukan misi diplomasinya dengan negara lain di berbagai benua. Meskipun Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit hanya tinggal sejarah namun keberanian para leluhur bangsa Indonesia tetap diwarisi oleh para pendiri bangsa. Keberanian ini terbukti di forum Internasional saat kebijakan PBB berseberangan dengan kebijakan Pemerintah Indonesia, dengan gagah berani Indonesia memutuskan keluar dari keanggotaannya di PBB. Begitupun saat Indonesia konfrontasi dengan Malaysia. Latarbelakang konfrontasi Indonesia-Malaysia merupakan bentuk penolakan keras dari Pemerintah Indonesia terhadap Pemerintah Malaysia yang melakukan pembentukan Malaysia atau penyatuan Persekutuan Tanah Melayu (kini Malaysia Barat) dengan tanah jajahan mahkota/naungan British di Sabah dan Sarawak, yang umum dikenal sebagai British Borneo, Malaysia Timur pada bulan September 1963. Penentangan ini telah dilakukan oleh Presiden Soekarno karena cita-cita luhurnya menentang penjajahan di Nusantara pada tanggal16 September 1963. Sikap Pemerintah Indonesia ”Soekarno” yang tegas dan berani dalam memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia ini mendapat dukungan negaranegara tetangga, seperti Filipina dan Singapura. Di sini tergambar dengan jelas betapa Indonesia memiliki pengaruh yang begitu besar di Kawasan Asia. Pengaruh Indonesia di Benua Asia yang begitu luar biasa ini tentulah bukan tanpa alasan yang kuat. Indonesia memiliki perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia mendapat pengakuan dunia yang tertuang dalam UNCLOS (United Nation Convention on the Law of the Sea) yang diratifikasi/diakui oleh negara-negara dunia. Negeri elok bergaris pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada ini, menyimpan potensi geografis dan sumber daya alam nusantara sebagai negara maritim yang melimpah membuat Indonesia begitu menggiyurkan dunia terutama bagi negaranegara maju. Tujuan mereka jelas ingin mendulang keuntungan dari kekayaan alam bumi pertiwi ini. Di sisi lain dengan mempelajari sejarah kebesaran nusantara mereka pun melihat Indonesia berpotensi menjadi negara besar, sekaligus juga menganggap hal ini sebagai ancaman serius terselubung (klandestin) yang memprediksi Indonesia akan berpeluang menjadi negara besar yang kuat. Kekhawatiran inilah yang menjadi cikal bakal pemikiran dan berbagai upaya telah mereka lakukan demi menguatkan pengaruhnya melalui hal yang paling mendasar dengan merusak karakter dan mental bangsa Indonesia diberbagai sendi-sendi bangsa, diantaranya: ideologi, politik, sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat seiring dengan kemajuan zaman sangat mendukung penyebarluasan berita/alat penciptaan opini publik yang dahsyat serta sulit dibendung. Bila kita telusuri, hal ini merupakan ide pemikiran dari Sun Tzu, beliau adalah seorang jenderal yang terkenal dengan ajaran strategi perangnya yang banyak memengaruhi strategi politik dunia barat dan timur itu sangat berkaitan erat dengan situasi politik di Indonesia saat ini. Salah satu ajarannya adalah, ”Ketika berhadapan dengan musuh yang sangat kuat untuk menghadapinya secara langsung anda harus melemahkannya dengan meruntuhkan fondasinya dan menyerang sumber dayanya”. Fondasi dapat diterjemahkan menjadi mental, pengetahuan dan kecintaan anak bangsa kepada