Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 64

KELAUTAN 64 MENINGKATKAN PEREKONOMIAN DENGAN PEMBERDAYAAN POTENSI LAUT BAGI MASYARAKAT PESISIR Indonesia merupakan negara maritim dengan 70% wilayahnya adalah laut dengan keanekaragaman hayati laut. Kondisi geografis kawasan pesisir dan laut Indonesia beriklim tropis serta memiliki perairan yang teduh dan jernih, karena terlindungi dari pulau-pulau dan teluk dengan kondisi pantai yang landai, banyak ditumbuhi hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun (seagrass), dan rumput laut (seaweed), sangatlah memililki potensi pengembangan budidaya pantai dan laut bila ditangani secara optimal pemanfaatannya. L autan sangat berperan penting dalam mengontrol iklim di bumi dan mengurangi pemanasan global untuk menangkap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer dalam jumlah yang sangat besar sekitar seperempat CO2 yang dihasilkan oleh manusia dari hasil pembakaran fosil diserap dan di simpan di laut. Secara umum, sumber daya kelautan terdiri atas sumber daya dapat pulih (renewable resources), sumber daya tidak dapat pulih (non-renewable resources), dan jasa-jasa lingkungan kelautan (environmental services). Adapun sumber daya dapat pulih terdiri dari berbagai jenis ikan, udang, rumput laut, termasuk kegiatan budi daya pantai dan laut (mariculture), selanjutnya sumber daya tidak pulih meliputi mineral, bahan tambang/galian, minyak bumi dan gas. Sedangkan yang termasuk jasa-jasa lingkungan kelautan adalah pariwisata dan perhubungan laut. Implikasi langsung terhadap peningkatan pertumbuhan penduduk adalah semakin meningkatnya tuntutan kebutuhan hidup, sementara potensi sumber daya alam di darat yang kita miliki sanggatlah terbatas. Hal tersebut mendorong kita untuk mengalihkan alternatif potensi sumber daya alam lain yang kita miliki yaitu potensi kelautan. Ada lima potensi kelautan yang dapat kita andalkan, yaitu potensi perikanan, potensi wilayah pesisir, potensi sumber daya mineral, minyak dan gas bumi bawah laut, potensi pariwisata dan potensi tranportasi laut. Kebijakan pembangunan kelautan, selama ini cenderung lebih mengarah kepada kebijakan produktivitas dengan memaksimalkan hasil eksploitasi sumber daya laut tanpa ada kebijakan memadai yang mengendalikannya. Akibat yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut telah berdampak terjadi beberapa kecenderungan yang tidak menguntungkan dalam aspek kehidupan, seperti: a) Aspek ekologi, overfishing penggunaan sarana dan prasarana penangkapan ikan yang telah cenderung merusak ekologi laut dan pantai (trawl, bom, potas, pukat harimau, dll) yang berakibat terjadi