Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Página 62
TEKMIL
62
kapal selam mini, dan rudalrudal berhulu ledak bom tandan
(cluster), baru akan efektif saat
posisi kekuatan lawan diketahui
secara tepat.
Pesawat RQ-170 Sentinel
dapat dikatakan memiliki semua
yang dicari Iran. Pesawat hasil
rancangan Skunk Works, salah
satu divisi Lockheed Martin yang
terkenal dengan beberapa proyek
pesawat rahasia AS, seperti
U-2, SR-71 Blackbird, dan F-117
Nighthawk, sejak awal memang
didesain menjadi sebuah pesawat
tak berawak siluman yang tak
terdeteksi radar.
Pesawat itu berbentuk sayap
terbang yang sulit terdeteksi radar
dan mengingatkan pada bentuk
pesawat pengebom siluman B-2
Spirit. Badan pesawat juga dilapisi
bahan cat khusus yang menyerap
sinyal radar. Kekhawatiran utama
di kalangan militer AS adalah Iran
akan berhasil mengungkap rahasia
dan memproduksi cat serupa untuk
pesawatnya di masa depan.
Di tengah segala keterbatasan dan ketidakmampuan untuk
menandingi lawan secara sebanding, Iran paling tidak telah
menemukan jalan untuk melindungi
keutuhan wilayah dan martabat
bangsanya dengan mengejar keunggulan asimetris.
PERANG ASIMETRIS BENTUK
PERANG BARU
Indonesia sendiri sebenarnya memiliki daftar panjang dijadikan sasaran perang asimetri.
Sejak proklamasi kemerdekaan
Indonesia tanggal 17 Agustus 1945,
Indonesia terus melakukan perang
asimetri terhadap pendudukan
Belanda hingga 1950, Gerakan
Aceh Merdeka (GAM), krisis
Timor Timur, Gerakan Pengacau
Keamanan di Papua, dan lainnya.
Hal ini juga pernah ditegaskan oleh salah satu pengajar Fisip
UI Tamrin A Tamangola dalam
presentasi
berjudul
“Perang
Asimetris, Tanggapan dan Penajaman”, pada suatu acara loka
karya di Jakarta, Kamis 10 Juli
2011. Ia membahas mengenai
ancaman asimetris terhadap bidang sosial budaya dan agama.
Menurutnya,
ancaman
yang pertama mengenai tidak meratanya persebaran suku-suku
di Indonesia. Seperti diketahui,
di Indonesia terdapat 653 suku
bangsa. Akan tetapi dari Sumatera
hingga Jawa (kecuali Sumatera
Selatan) hanya terdapat beberapa
suku mayoritas. Sebaliknya di
Kalimantan, Sulawesi, dan Papua,
banyak sekali suku bangsa yang
menghuni satu kota. Bahkan setengah dari jumlah suku bangsa
berada di Papua. Ini dapat
menjadi ancaman disintegrasi.