Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 40
INFO
40
tujuh orang pelaut Bugis/Makassar
yang sejak zaman dahulu telah
dikenal sebagai pelaut-pelaut
ulung. Seiring dengan dinamika
perjuangan bangsa Indonesia,
kapal ini kemudian berubah fungsi
menjadi kapal ekspedisi pasukan
ALRI Jawa-Sulawesi, yakni suatu
ekspedisi lintas laut membawa
putra-putra Sulawesi kembali ke
daerah asal untuk mengobarkan
berita proklamasi kemerdekaan
dan mendirikan pangkalan ALRI di
pulau tersebut.
PERSIAPAN EKSPEDISI
Ekspedisi lintas laut ke
Sulawesi diawali dengan terbitnya
Surat Perintah Markas Besar ALRI
Yogyakarta Nomor 111/R/MBA
tanggal 7 November 1946 yang
ditandatangani oleh Laksamana
Muda Goenadi selaku Wakil Kepala
Staf Umum ALRI di Yogyakarta.
Berdasarkan surat perintah itu
maka segera dibentuk ALRI
Pasukan Seberang (ALRI PS)
yang bermarkas di kota Lawang,
Malang, Jawa Timur. Sedangkan
latar belakang pembentukan ALRI
PS ini adalah bahwa wilayah
Indonesia bagian timur pada
zaman penjajahan Jepang
dikuasai
oleh
Kaigun
(Angkatan Laut Jepang)
sehingga dipandang perlu
untuk menyusun kaderkader angkatan laut di
Sulawesi.
Surat perintah ini ditujukan
kepada Letkol J.H. Tamboto
yang selanjutnya diteruskan
kepada Komandan Resimen
Pertahanan ALRI
VI Daerah-3 Seberang,
Mayor Johan Daeng Mangung dan Kapten Abdul
Rahman Daeng Situju untuk dilaksanakan. Hasil
musyawarah
selanjutnya
menetapkan
Mayor
Johan Daeng Mangung
bertindak sebagai ketua
tim perencana ekspedisi.
Kemudian dengan dibantu
oleh beberapa perwira
stafnya, dia segera membuat
perencanaan
ekspedisi
lintas
laut ke Sulawesi yang kemudian
dikenal sebagai Ekspedisi TRIPS
(Ekspedisi
Tentara
Rakyat
Persiapan Sulawesi).
Setelah selesai melakukan
rapat perencaan kemudian mereka segera melakukan berbagai
persiapan, yang pertama adalah
menyusun
organisasi
tugas
pelaksana
ekspedisi
dengan
susunan sebagai berikut:
1. Komandan
Ekspedisi:
Kapten Hasan Ralla.
2.
Pimpinan Penyelidik: Letnan
Satu A.A. Rifai.
3. Pimpinan
Propaganda:
Letnan Dua Sahabudin
4.
Pimpinan Sabotase: Letnan
Satu L. M. Jafar.
5. Pimpinan Gerilya: Letnan
Satu R. Nasution.
6. Pimpinan
Perhubungan:
Letnan Satu Manggu Daeng Siala.
Daftar
nama-nama
itu
terdapat dalam Surat Kolektif
Nomor 44/0/SW tanggal 10 Ja-
nuari 1947 yang ditandatangani
oleh
Mayor
Johan
Daeng
Mangung. Seluruh anggota ekspedisi semuanya berjumlah 43
orang, 36 orang berasal dari
anggota ekspedisi ALRI PS dan
tujuh orang merupakan ABK kapal
Kapten Baru yang dibawa Letnan
M. Amir dari Pulau Kalukalukuang.
PELAKSANAAN EKSPEDISI
Akhirnya
pada
tanggal
27 Januari 1947 rombongan
ekspedisi pimpinan Kapten Hasan
Ralla bertolak dari pelabuhan
Panarukan menuju Sulawesi. Sementara itu dengan didampingi
beberapa orang stafnya, Mayor
Johan Daeng Mangung mengantar
kepergian tim ekspedisi untuk
berlayar ke Sulawesi. Kapal Kapten
Baru kemudian berlayar menuju
laut lepas dengan kelengkapan 37
pucuk senjata api berbagai jenis,
enam peti granat, dua peti obatobatan, 12 ton gula pasir serta
amunisi secukupnya. Penggunaan
kapal Kapten Baru sebagai
sarana ekspedisi itu telah melalui
berbagai
pertimbangan
yang
matang, misalnya mengapa
kapal tersebut berasal dari
Sulawesi tepatnya Pulau
Kalukalukuang yang warga
masyarakatnya
terkenal
sebagai pendukung perjuangan kemerdekaan RI.
Pelayaran kapal ekspedisi
pada
mulanya
berjalan dengan baik, namun
tiba-tiba pada tanggal 16
Februari 1947 saat kapal
tersebut hendak mendarat
di pantai selatan antara
Tanjung Baru dan Pulau
Panikiang tiba-tiba diserang
oleh Belanda. Namun demi
suksesnya misi pendaratan
ini, serangan
Belanda
itu untuk sementara diabaikan
anggota
tim
ekspedisi, saat itu jarak
masih sekitar dua mil dari
pantai saat kapal Kapten
Baru diserang Belanda.
Akan
tetapi
menjelang