Media BPP Oktober 2016 Vol 1 No 4 | Página 56

Kemendagri
di
Hotel
Orchard,
Jakarta.
Dinilai masih belum mampu, dari Unit Pelaksana Teknis, BPP Provinsi Kalimantan Barat berubah menjadi kantor. Pada masa itu, kinerja BPP Kalbar masih dinilai dengan stigma negatif, dengan plesetan‘ Sulit Berkembang’.
Namun waktu silih berganti, pemerintahan daerah dan kepala kantor litbang pun telah berganti kepemimpinan. Terlebih dengan lahirnya PP No 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah, Kantor Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Barat dituntut kembali menjadi Badan.
“ Saat ini kami tengah mempersiapan untuk menjadi Badan. Kita sudah mengalami berbagai dinamika dan struktur. Sebenarnya dulu bisa kita perjuangkan tetap menjadi Badan, asal kita bisa menunjukkan kinerja yang baik. Namun sayangnya kita belum mampu. Nah, saat ini kita memang sedang membangun diri dan kapasitas agar bisa terbentuk kembali menjadi Badan,” terangnya.
Berjuang di Tengah Keterbatasan
Meski diakui di tengah keterbatasan, sumber daya manusianya. Kantor Litbang ini tidak pernah menyerah dalam berjuang agar kembali menjadi Badan.“ Meski kami hanya mempunya dua peneliti, tapi kami yakin bisa kembali lagi menjadi Badan,” tandas Yohanes.
Dengan keterbatasan peneliti itulah, Yohanes dan kawan-kawan mencoba mengajukan personil peneliti kepada pemerintah setempat. Beruntung, gubernur saat ini sangat mendukung dan mendorong penelitian di Kalimantan Barat.“ Kami mencoba mengajukan peneliti kepada pemerintah daerah, dan alhamdulillah diberikan tenaga 3 peneliti, dan 2 perekayasa. Kalau ini dilakukan setiap tahun, saya yakin dengan kekuatan seperti ini, bukan hanya kembali menjadi Badan, tapi menjadi Badan Penelitian terpercaya di Kalimantan Barat,” terangdengan optimis.
Terbukti, perjuangan di tengah keterbatasan yang dilakukan oleh semua struktur dan fungsional Kantor Litbang Kalimantan Barat menemukan titik terang. Hasil penilaian dari pembentukan badan, mengarah ke BPP tipe A.“ Selain kerja sama internal, Pemerintah
Daerah yang sekarang juga sangat mendukung kami. Dalam penilaian kemarin skor mengarah ke tipe A. Kita pasti akan meningkatkan dulu sumber daya yang ada, jangan sampai terjadi stigma negatif sulit berkembang terus. Kalau mereka sudah memercayakan kami, tantangan berikutnya adalah mengisi formasi dengan orang-orang yang benar dan berkomitmen tinggi terhadap lembaga ini,” tegasnya.
Khawatir Peneliti Jenuh
Dukungan terhadap Kantor Litbang Kalimantan Barat memang diberikan sepenuhnya oleh pemerintah setempat, namun masih ada beberapa kekhawatiran yang bisa saja dialami oleh peneliti di Kalbar.“ Hanya saja kendala kita kan ada sertifikasi, dan prosesnya lama. Harus ke kantor pusat( Kemendagrired). Yang saya khawatirkan ada kejenuhan dari teman-teman peneliti. Kalau tidak dijaga semangatnya, bisa dimanfaatkan jadi struktural. Karena saya maunya, peneliti itu ya sibuk meneliti, bukan persoalan administratif,” paparnya.
Hal yang sama juga dikhawatirkan oleh Rizky, calon peneliti di Kantor Litbang Kalbar, dia berharap ke depannya urusan administratif tidak dibebankan kepada peneliti.“ Semoga tidak ada lagi yang namanya rangkap jabatan. Saya berharap urusan sertifikasi peneliti juga bisa dipercepat, apalagi di provinsi pedalaman seperti kami ini,” ungkap peneliti yang baru saja mengikuti diklat itu.
Meski begitu, Kantor Litbang Kalbar sangat berterima kasih pada BPP Kemendagri atas peluangnya untuk bisa mendirikan badan kembali, dengan dukungannya melalui PP OPD, dan Permendagri tentang Penelitian dan Pengembangan.“ Teman-teman di BPP Kemendagri sudah memberikan peluang besar agar kami bisa mendirikan Badan sendiri. Kami berharap koordinasi dan sosialisasi seperti ini terus berjalan dengan baik, kita di daerah kadang merasa bingung mau menginduk ke mana. Saya berharap ada pembinaan yang baik. Jangan sampai terulang penurunan seperti kami, dari Badan menjadi Kantor,” jelasnya.
Yohanes juga berharap dengan kewenangan yang lebih besar karena sudah menjadi Badan ke depannya, BPP Kalbar bisa lebih bergerak dan percaya diri, membangun jaringan, melakukan penelitian lintas sektor.
“ Saya punya keinginan ke arah satu ini,” ditambahnya.
Minat Inovasi Sangat Tinggi
Meski di tengah keterbatasan, semangat untuk melakukan inovasi sudah dilakukan Kantor Litbang Kalbar sejak dari dulu. Mereka rutin mengadakan perlombaan karya ilmiah tingkat mahasiswa, dosen, atau masyarakat umum sesuai dengan tema yang dirumuskan setiap tahun.“ Terkait inovasi kita rangkum dalam lomba karya ilmiah dan perekayasaan. Sesuai RPJMD( Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah). Seperti tahun ini, tema kita tentang Sumber Daya Manusia dan Energi Hilir Pangan,” kata Yohanes.
Menurut Yohanes, antusias pesertanya sangat tinggi. Setiap kali penyelenggaraan bisa menyaring lebih dari 100 karya ilmiah.“ Kita selalu menginformasikan dari awal tahun, mensosialisasikan dengan media massa, dan teman-teman BPP Kabupaten / Kota. Pesan-pesannya kita sampaikan ke jaringan TV lokal ke 14 kab / kota terpencil,” paparnya.
LKI( Lomba Karya Ilmiah) di Kalimantan Barat dari tahun ke tahun pemenangnya beragam. Ada dari kalangan guru, pelajar, dan mahasiswa.“ Rewardnya kita upayakan ada peningkatan. Juara 1 dari Rp 5 juta, bisa kita upgrade 10 juta, dan itu menjadi daya tarik warga sejauh ini. Untuk di pulau Kalimantan sendiri lomba karya ilmiah masih terbatas, untuk itu kantor litbang kami memunyai tugas mengembangkan inovasi dari masyarakat. Walaupun inovasi sederhana, tapi kami selalu memberikan penghargaan pada masyarakat. Pemenang tidak hanya mendapatkan uang tunai, tapi akan kita profilkan di media massa, dan dimuat dalam j u r n a l kami,” tutupnya.( IFR)
VOLUME 1 NO 4 | OKTOBER 2016 29