Media BPP Oktober 2016 Vol 1 No 4 | Page 46

LAPORAN UTAMA
mewawancarai sejumlah elemen terkait dari Kementerian dan Lembaga. Mereka semuanya sepakat dengan pengusulan dari Kepala BPP. Bahkan ada yang sudah memikirkan bagaimana konsep dan perencanaan hari tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Hasoloan Nadeak, peneliti senior BPP Kemendagri. Ia mengatakan, wacana Hari Peneliti Nasional merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap peneliti yang selama ini dirindukan.
“ Kalau ada hari peneliti itu berarti peneliti dianggap penting oleh pemerintah. Penting dari sisi apa? Dari kegiatan itu sendiri. Nantinya saya harap ada banyak hal-hal yang diambil dari hasil penelitian yang bisa mengisi Hari Peneliti tersebut. Ada wadah untuk hasil penelitian, karena selama ini saya melihat wadah untuk peneliti masih sangat kurang. Banyak peneliti Indonesia yang berprestasi tapi justru bekerja untuk luar negeri, karena kurangnya dukungan dan wadah dari pemerintah,” jelasnya.
Hal itu juga diamini oleh Rosmawaty Sidauruk yang juga merupakan peneliti senior BPP Kemendagri. Perempuan berdarah Batak yang akrab disapa Ros ini mengatakan, selama ini sebenarnya lembaga yang dinaunginya memang seringkali mengalami pasang surut idealisme. Sehingga ia kerap mempertanyakan adanya komitmen pemerintah dalam memajukan penelitian, khususnya soal kebutuhan peneliti di Litbang Kementerian.“ Saya sangat setuju jika ada Hari Peneliti Nasional yah, saya rasa peneliti itu butuh hari di mana suaranya diaspirasi. Nanti perlu ada semacam orasi kebijakan, di mana peneliti punya wadah dalam menyuarakan aspirasi,” terangnya.
Berbeda dari kedua peneliti senior di atas, Hadi Supratikta, Ketua Bidang Analisis dan Rekomendasi Kebijakan HIMPENIN- DO( Himpunan Peneliti Indonesia) mengatakan, sebenarnya eksistensi himpunan penelitian sudah diwadahi dalam berbagai organisasi seperti Himpenindo atau FKK( Forum Komunikasi Kelitbangan), namun sayangnya publikasinya masih kurang dan dianggap tidak‘ greget’, sehingga pentinglah Wacana Hari Peneliti Nasional tersebut sebagai apresiasi para peneliti terutama di daerah.
“ Kaitannya kenapa hari peneliti itu penting, karena selama ini kegiatan penelitian di Kementerian / Lembaga itu di-nomor-sekian-kan, karena tidak dianggap penting. Lahirnya UU 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada pasal 388 mengamanatkan bagaimana inovasi bisa berjalan. Ada reward untuk peneliti di daerah juga,” himbaunya.
Ia menambahkan, jika Hari Peneliti Nasional dilaksanakan reward dan dana insentif ke daerah lebih diutamakan, sehingga ada karyakarya masyarakat di daerah yang muncul dan mendapat pengakuan.“ Selama ini kan banyak inovasi dari daerah yang bagus namun kurang mendapatkan penghargaan dari pemerintah, dan itu sangat disayangkan sekali,” tambahnya.
Sedikit berbeda dari Hadi, Syamsuddin Haris justru tidak setuju sama sekali dengan adanya Hari Peneliti Nasional. Menurutnya, ia justru setuju dengan wadah aspirasi peneliti jangka panjang ketimbang perayaan yang hanya satu hari.“ Harus dicari dulu urgensinya, saya memandang Hari Peneliti Nasional tidak penting-penting amat, yang penting adalah insentif peneliti. Kebanyakan Peneliti Utama di Indonesia yang sudah professor itu tidak ada kejelasan dana insentifnya sampai sekarang. Bagi saya anggaran penelitian ditingkatkan, karena itu akan menentukan daya saing bangsa kita ke depan. Selain itu, pemerintah harus menghargai hasil-hasil penelitian kita yang digunakan sebagai landasan kebijakan. Jadi tidak hanya wadah hasil penelitian sementara, tapi jangka panjang,” sarannya.

Kaitannya kenapa hari peneliti itu penting, karena selama ini kegiatan penelitian di Kementerian / Lembaga itu dinomorsekiankan, karena tidak dianggap penting
Wadah atau wujud apresiasi dari pemerintah sebenarnya sudah banyak dilaksanakan oleh lembaga terkait yang sudah maju seperti LIPI atau Kemenristek yang menghasilkan KIPNAS( Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional atau AKIL( Anugerah Kekayaaan Intelektual Luar Biasa). Namun sayangnya acara tersebut kebanyakan berbasis sains dan teknologi saja. Sehingga belum ada yang mampu menaungi bidang Sosial, Politik, Budaya dan Humaniora.“ Saran saya, coba diskusikan dulu dari beberapa peneliti dan komponen terkait. Di LIPI sudah banyak acara dan hari semacam itu,” paparnya.
Kapan terlaksana?
Beberapa peneliti yang kami datangi, sepakat wacana Hari Peneliti Nasional perlu didiskusikan lebih lanjut dengan peneliti seluruh Indonesia. Seperti duduk bersama dan melakukan brain stromming untuk membahas kapan hari peneliti terlaksana.“ Atau bisa berkonsultasi dengan peneliti legenda Indonesia, macam B. J Habibie yang banyak berinovasi untuk negara ini. Nanti perlu didiskusikan lebih lanjut apakah ditetapkan berdasarkan tanggal lahirnya B. J. Habibie, atau waktu di mana karyanya berhasil seperti Pesawat N-250,” saran Hadi.
Kehadiran B. J Habibie dianggap penting sebagai tokoh atau panutan para peneliti seluruh Indonesia. Meskipun, Hadi juga tidak menampik beberapa tokoh hebat lainnya.“ Kita timbulkan tokoh inspirasi di Hari Peneliti tersebut, sehingga bisa memicu semangat peneliti untuk menirunya, seperti Habibie misalnya,” sarannya.
Namun berbeda dari Hadi, Nadeak justru lebih senang dengan efisiensi hari. Ia menganggap tidak perlu banyak hari dicanangkan untuk memperingatinya.“ Tidak perlu lah masyarakat menghafal banyak hari peringatan atau ceremonial. Cukup digabung dengan beberapa hari penting
24 VOLUME 1 NO 4 | OKTOBER 2016