Media BPP Desember 2016 Vol 1 No 5 | Page 58

DAERAH

Menelusuri Keindahan Pulau Pinggiran

Hiruk pikuk dan kepenatan suasana kota Metropolitan memang tidak akan ada habisnya. Jalanan macet, keramaian di fasilitas umum, apalagi ketegangan menjelang Pilkada 2017 mendatang. Duh kebayang bukan, bagaimana hidup di Jakarta?

Namun, di tengah segala ketegangan tersebut, ibu kota negara Indonesia itu memunyai banyak tempat yang bisa dikunjungi sebagai tempat refreshing dan penghilang penat. Yups! Ada gugusan pulau di pinggiran Jakarta yang biasa kita kenal dengan Pulau Seribu. Nah, seperti apa sih keindahan Pulau Seribu dan kekayaan sejarahnya? Yuk langsung saja simak perjalanan liputan Tim Media BPP menelusuri pulau-pulau di utara Jakarta ini.
Pulau sibuk
Pulau Onrust yang diambil dari bahasa Belanda yang berarti‘ Tidak Pernah Beristirahat’ atau dalam bahasa Inggrisnya adalah‘ Unrest’ menjadikan pulau ini konon pulau tersibuk di masanya. Benar saja, saat kami mendatangi pulau yang kini tidak berpenghuni itu, masih banyak peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu, pulau ini pernah menjadi pulau tersibuk di Kabupaten Kepulauan Seribu.
Di dalamnya terdapat banyak peninggalan arkeolog pada masa kolonial Belanda. Mulai dari makam Belanda, replika penjara, dan juga sebuah rumah utuh yang kini dijadikan Museum Pulau Onrust. Saking sibuknya, konon pada masa kolonial Belanda, rakyat sekitar menyebut Pulau Onrust sebagai Pulau Kapal, karena di pulau itu sering sekali dikunjungi kapal-kapal persinggahan Belanda sebelum menuju Batavia.
Namun ada sumber lain yang mengatakan, nama Onrust diambil dari nama penghuni pulau yang masih keturunan bangsawan Belanda, yakni Baas Onrust
Cornelis van der Walck. Tapi benar atau tidaknya, yang jelas pulau ini menyimpan banyak sejarah yang mengungkapkan kehidupan pernah ada di pulau ini.
Konon katanya, pada zaman dahulu Pulau Onrust dan pulau-pulau lain di Teluk Jayakarta( sekarang disebut Kepulauan Seribu) pernah menjadi tempat peristirahatan keluarga raja-raja Banten. Namun kemudian terjadi sengketa antara Kerajaan Banten dan Jayakarta hingga tidak pernah ada upaya penyelesaian. Jayakarta merasa memiliki pulau ini karena lokasinya dekat( di hadapan Kota Jayakarta), sedangkan Banten memunyai hak atas pulau tersebut sebab seluruh Kepulauan Seribu merupakan bagian dari teritorial kekuasaannya.
Saat Belanda datang dan gagal memonopoli perdagangan di Banten kemudian mengalihkan perhatiannya ke Jayakarta dengan menggunakan salah satu pulau di Teluk Jayakarta, yakni Pulau Onrust. Pada 1610 terjadi perjanjian antara Belanda dan Jayakarta yang isinya memperbolehkan orang-orang Belanda mengambil kayu untuk pembuatan kapal-kapalnya di Teluk Jayakarta. Melihat banyak kapal yang berlayar ke Asia Tenggara, dan tinggal beberapa lama, sehingga sering memerlukan perbaikan kapal akibat perjalanan panjang, maka VOC berniat untuk membangun sebuah galangan kapal di teluk tersebut. Niat tersebut diizinkan oleh Pangeran Jayakarta dengan menggunakan Pulau Onrust. Akhirnya dimulailah pembangunan‘ bengkel kapal’ dan sebuah gudang kecil pada 1613.
Pembangunan sarana fisik terus dilakukan hingga 1656 dibangunlah sebuah benteng kecil bersegi empat dengan 2 bastion( bangunan yang menjorok keluar berfungsi sebagai pos pengintai). Hingga kemudian diperluas kembali menjadi benteng persegi lima dan ditambah gudang-gudang penyimpanan barang, dan sebuah kincir angin untuk
penggergajian kayu.
Memasuki abad ke-18, silih berganti pulau ini banyak dimasuki oleh koloni lain selain Belanda. Pada 1800-an, Inggris melakukan blokade Batavia, yang dikepung pertama kalinya adalah Pulau Onrust dan sekitarnya. Semua bangunan yang terdapat di permukaan Onrust tersebut dimusnahkan. Setelah hancur, Belanda merencanakan pembangunan kembali atas pembangunan Onrust, namun baru selesai pembangunannya, Inggris kembali menghancurkan Onrust. Hingga pada 1848 aktivitas di Onrust berjalan kembali.
Namun sayangnya, setelah kejadian demikian Onrust kehilangan perannya dalam dunia perkapalan dan pelayaran akibat beberapa pelabuhan sudah hancur dan tidak layak. Baru memasuki abad ke-19, Belanda menciptakan stasiun cuaca di pulau ini dan juga Pulau Cipir. Hingga pada akhirnya Onrust diubah fungsinya menjadi karantina Haji sampai 1933. Para calon haji dibiasakan dulu dengan udara laut, karena saat nanti mencapai Tanah Suci harus naik kapal laut selama berbulan-bulan lamanya, dan kemudian sebagai pos karantina jemaah haji yang kembali.
Peran Onrust sebagai tempat penampungan haji lama-kelamaan berubah menjadi pulau penampungan jamaah haji yang sakit. Sampai pada akhirnya, tempat ini lambat laun dijadikan tempat tawanan para pemberontak dan kriminal kelas berat pada masa pemerintahan Belanda dan Jepang 1942.
Pada masa Indonesia merdeka pulau ini dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina, terutama bagi penderita penyakit menular di bawah penga-
30 VOLUME 1 NO 5 | DESEMBER 2016