BPP DAERAH
Bangunan berlantai dua dengan tembok cat berwarna krem kusam tampak mendominasi kawasan seluas 2.545 m2 itu. Sekilas, bangunan yang dipenuhi dengan deretan mobil dinas berplat merah itu seperti gedung sekolah, jika tidak melihat sebuah plang bertuliskan“ Badan Penelitian dan Pengembangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara”
Jarum jam menunjukkan angka pukul 10.00, namun teriknya matahari sudah mulai membasahi hampir sebagian baju karena keringat. Kami menemui salah satu staf pejabat yang berada di sana. Berbincang mengenai beberapa program yang telah mereka lakukan di tengah keterbatasan dan tantangan baru sejak lahirnya PP No 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah.
Menjadi landasan kebijakan gubernur
Digawangi oleh Effendy Pohan, BPP Sumut termasuk dalam kriteria BPP Daerah yang maju dengan tipe A. Bukan hal yang mudah untuk menjadi seperti sekarang, kedisiplinan dan perencanaan yang matang dalam melaksanakan setiap program harus terus dilakukan.
Tidak hanya matang dalam perencanaan program, tapi apa yang sudah dijadwalkan harus terealisasi dengan baik, terbukti bahkan setiap bidang penelitian, mewajibkan ada dua kegiatan yang harus berjalan setiap tahunnya. Sehingga total keseluruhan program tiap tahun ada 8 kegiatan penelitian yang umumnya banyak digunakan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara sebagai landasan pengambil kebijakan.
“ Nah, pada akhir tahun kami selalu mengadakan diseminasi setelah kegiatan semua berakhir. Diseminasi kajian-kajian litbang biasanya bekerja sama dengan unit lain maupun universitas,” kata Afifi Lubis Sekretaris BPP Sumut.
Beberapa program dan kegiatan yang dilakukan oleh BPP Sumut juga banyak digunakan menjadi dasar landasan kebijakan Gubernur.
BPP Sumatera Utara
BERPRESTASI DI TENGAH KETERBATASAN
Provinsi Sumatera Utara salah satu provinsi yang maju di Indonesia, dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan kesejahteraan yang notabennya cukup maju, membuat SKPD( Satuan Kerja Perangkat Daerah) setempat terus bersaing meningkatkan prestasinya, terutama di bidang penelitian. Meski dana dan perhatian pemerintah dirasa kurang, mereka selalu optimis dan bekerja maksimal. Lantas seperti apa prestasi yang telah diukir?
Seperti kajian mengenai kelautan, pendidikan dan MEA( Masyarakat Ekonomi Asean), tunjangan hasil pegawai SKPD Sumut, Pelindo( Pelabuhan Indonesia), Samsat, dan Science Center( Pusat Sains).” Biasanya hasil kajian kami menjadi dasar rekomendasi Gubernur. Jadi kita yang memunyai konsep, mereka yang mengembangkan,” papar Afif.
Komunikasi yang terjalin, dan kerja keras peneliti di sana, mampu membuat BPP Sumut bersinergi dengan pemerintah setempat meski hanya terdapat 7 orang peneliti muda. Tapi mereka mampu membuktikan prestasi di tengah keterbatasan.
” Jumlah peneliti ada 7 orang peneliti muda, dulu ada 1 Peneliti Madya tetapi saat ini sedang kuliah di Amsterdam. Semua peneliti kami sudah mengikuti diklat dan peneliti di sini cukup produktif dalam membuat tulisan-tulisan ilmiah, bahkan terkadang kami rasa sulit untuk mencari wadah yang siap untuk menampung hasil pemikiran atau penelitian pe-
28 VOLUME 1 NO 5 | DESEMBER 2016