LAPORAN KHUSUS
Semarak Kemeriahan Hari Nusantara 2016
Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur pada Rabu, 13 Desember 2016 menjadi sejarah dan catatan penting bagi pulau terpencil di negeri timur Indonesia. Hari itu, gemericik hujan dan selimut awan mendung menutupi matahari Lembata yang biasa menyongsong dengan hebatnya.
Beragam tarian daerah dipentaskan
Sebanyak 140 penari menampilkan tarian beragam khas NTT( Nusa Tenggara Timur) meski dalam kondisi lapangan becek, dan guyuran hujan rintik-rintik menjatuhi kepala yang ditumbuhi rambut keriting ratusan para penari.
Tapi hal itu tidak membuat mereka menyerah. Semangat menampilkan pertunjukan yang apik berhasil mereka suguhkan dalam atraksi yang dibawakan oleh perpaduan pelajar, karyawan, pegawai negeri, dan anak putus sekolah.
Menggunakan kemben bewarna hitam kecokelatan dengan warna pekat, dipadu aneka warna warni kain khas NTT, dan mahkota yang terbuat dari janur, mereka berhasil mencuri pandangan 3.000 tamu yang hadir. Membuka mata, merobek pandangan akan ketertinggalan Negeri Timur yang selama ini dipikirkan oleh tamu undangan.
Sambil berlenggak-lenggok, membentuk suatu formasi di hadapan Gunung Aleape, dan ratusan kapal yang bertandang di Pelabuhan Lewoleba, mereka berhasil memukau Tjahjo Kumolo dan Luhut Pandjaitan, Menteri Dalam Negeri dan Menko Kemaritiman. Bahkan berulang kali orang terpenting di negeri itu tersenyum kagum, bertepuk tangan, dan sesekali manggut-manggut kepala dan badannya mengikuti irama musik yang khas dari NTT.
Bukanlah hal mudah menyuguhkan tarian di hadapan orang penting di Indonesia itu. Setidaknya butuh waktu tiga bulan untuk berlatih, bahkan sampai H-1 siang hari, mereka masih terus berlatih agar tidak salah dalam mengatur gerakan tarian khas pulau yang kurang dijamah oleh pejabat negeri itu.
Jika melihat sekilas, tarian bernama tarian kolosal Kembang Setaman sederhana, tetapi jika dilihat dari dekat, sambil melenggak lenggok gemulai, setiap penari( baik penari perempuan dan laki-lakinya) membawa sebuah pisau yang di ujung gagangnya dihiasi oleh tumbuhan bewarna hijau. Bahkan ada penari pria yang menunjukkan penampilan cukup ekstrim dengan tidur di ujung sebuah batang bambu sambil berputar dan memegang dua buah pisau di tangannya. Menegangkan, namun cukup lihai dan memukau para penonton.
Tarian ini menyimbolkan perdamaian, persatuan dan semarak gotong royong yang kental di daerah Lembata, itulah disebut sebagai Kembang Setaman yang artinya tempat berkumpulnya gotong royong dan berpadu menjadi indah. Itu juga terlihat dari beberapa penari pria yang membawakan sebuah replika ikan paus. Suatu tradisi di NTT, yang menjadi semangat gotong royong mereka.
Mereka biasanya berburu ikan paus pada bulan Juli – Desember yang hasil buruannya selalu dinikmati bersama seluruh penduduk. Cara itu yang juga mereka peragakan dalam tarian di depan Menteri dan beberapa pejabat daerah yang datang.
Penghargaan pada Polisi Laut
Selama hampir satu setengah jam, dengan durasi masing-masing tarian 30 menit pembawa acara menyampaikan ada beberapa atraksi yang akan dipamerkan dalam Hari Nusantara 2016 itu, salah satunya adalah aksi terjun payung, pameran kapal, dan pemberian piagam penghargaan bagi para pahlawan laut yang telah menjaga kelestarian laut Indonesia.
Tiga belas penghargaan diberikan oleh Luhut, di antaranya, Kapal Pengawas Perikanan Berprestasi di Wilayah Barat dan Timur. Lalu ada pemberian Dharma Pertahanan yang diberikan kepada
14 VOLUME 1 NO 5 | DESEMBER 2016