diubah dengan cara disiplin dan komitmen,” sarannya. Multijurnal
Masih di hari yang sama, Jurnal Bina Praja milik BPP Kemendagri yang sudah terakreditasi LIPI dan memunyai website sendiri, disarankan oleh narasumber yang kedua, Evvy Kartini, untuk menjadi induknya multi jurnal.“ Lebih baik bikin satu rumah( website), di dalamnya ada 20 kamar dari BPP Daerah yang lain,” imbuhnya.
Manfaat multiple journal ini adalah memudahkannya akreditasi jurnal di bawah naungan Kementerian Dalam Negeri, mengingat banyaknya lembaga daerah seperti Bappeda atau BPP Daerah memunyai hasil penelitian yang dimuat jurnal ilmiah. Jika jurnal terakses secara online, maka hasil penelitian akan dibaca semua orang, dan memudahkan tim penilai akreditasi untuk menilai
Salah satu keberhasilan jurnal dan tolok ukur suatu jurnal adalah banyaknya daftar sitasi( menjadi sumber referensi untuk jurnal lain) yang dipakai. Bahkan jika sudah terindeks di Google Scholar dan DOAJ, akan menjadi nilai tambah penilaian suatu jurnal.“ Kalau yang mensitasi ada 25 orang, maka nilainya 5. Dengan sistem satu rumah ini, bisa saling sitasi satu sama lain. Tidak apa-apa, itu siasat untuk memajukan jurnal masing-masing. Asal penelitiannya sesuai dengan kajian yang kita miliki,” paparnya.
Tips menulis dan menyeleksi naskah
Meski begitu, sejatinya menjadi pengelola jurnal tidaklah mudah, banyak kendala yang biasanya dialami. Salah satunya adalah krisis naskah, akibatnya artikel penelitian yang tidak berkualitas pun menjadi salah satu pilihan terakhir yang masuk dalam jurnal suatu lembaga.
Obing Katubi, peneliti dari LIPI memberikan saran dan masukan kepada para pengelola jurnal. Ia menjelaskan, menjadi peneliti yang berkualitas, pertama adalah mengikuti karakteristik suatu jurnal.“ Kalau jurnalnya bertema politik, ya menulis tentang politik jangan menulis tentang ekonomi,” jelasnya.
Lalu untuk menulis jurnal berkualitas, peneliti harus menulis artikel dengan tema yang tidak terlalu luas. Fokuskan permasalahan yang akan diuji.“ Biasanya artikel ditolak karena menyatakan pentingnya penilaian yang dianggap sempit tersebut, tidak memberikan contoh yang memadai, tidak memperkirakan tingkat pengetahuan audien secara tepat, dan tidak mengaitkan panjang artikel dengan topik. Jangan memanjangkan artikel dari pembahasan tema yang sempit,” jelasnya.
Selanjutnya ia menjelaskan, kebanyakan artikel ditulis tidak berdasarkan kebaruan yang ada. Banyak peneliti yang terjebak dengan penelitian terdahulu sehingga tidak menemukan hal yang berbeda dan menghasilkan buah pikirannya sendiri.“ Tunjukan hal yang baru tentang bukti Anda. Berikan penjelasan apa yang beda dari penelitian terdahulu. Review analisis Anda. Jangan berhenti pada temuan,” ungkapnya.
Terakhir, Obing menyarankan agar para peneliti lebih hatihati dalam menulis. Kebanyakan penulis tidak membaca ulang tulisannya, sehingga banyak tata bahasa yang kurang huruf, tidak tepat atau biasa dibilang jorok.“ Bayar saja editor untuk mengeditnya, itu sah,” tutupnya.
Tujuh poin manajemen bermutu
Selain masalah miskin naskah, beberapa kendala juga ditemukan oleh para pengelola jurnal utamanya dewan redaksi. Menurut Rachma Fitriati, setelah naskah masuk, sudah menjadi kewajiban dewan redaksi untuk menyeleksi naskah dan diserahkan pada mitra bestari.“ Tapi kebanyakan dewan redaksi menyerahkan naskah mentah kepada mitra bestari. Kesalahan besar dewan redaksi adalah tidak membaca terlebih dahulu naskah yang akan diserahkan ke mitra bestari,” ungkapnya.
Sebenarnya hanya butuh 7 poin agar bisa tercipta manajemen pengelola jurnal yang bermutu. Yakni manajemen harus berkomitmen dan bertanggung jawab pada saat pengumpulan / penerimaan artikel, proses evaluasi makalah oleh dewan redaksi, jika diterima harus mengacu pada gaya selingkung dan secara substansi secara umum disertai lembar disposisi makalah dan diseleksi dari reviewer( mitra bestari) mengacu keterbaruan.“ Jangan terkecoh dengan judul artikel yang keren dan keterbaruan. Jangan langsung dikasih ke reviewer, baca dulu dan pilih teks yang memang layak,” paparnya.
Lalu yang ketiga, pada proses revisi makalah, sebaiknya pada proses ini, ada tim khusus masing-masing yang menyeleksi.“ Ada yang memeriksa per item seperti bagian metodologi, dan teori,” imbuhnya.
Selanjutnya, sebaiknya ada pengeditan naskah yang telah dinyatakan diterima oleh dewan redaksi, dan lakukan pengiriman hasil penyuntingan makalah untuk penulis, agar penulis tahu kapasitas kepenulisannya dan segera memberikan permintaan assignment of copywriter, untuk segera menerbitkan jurnal ilmiah.( IFR)
18 VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016