Media BPP Agustus 2016 Vol 1 No. 3 | страница 50

AKTIVITAS

Pembinaan Jurnal BPP Daerah

Jurnal Bina Praja
( JBP) milik Badan Penelitian dan Pengembangan( BPP) Kementerian Dalam Negeri, saat ini tengah mempersiapkan diri untuk menjadi jurnal bereputasi internasional. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mendaftarkannya pada lembaga pengindeks bereputasi seperti mendeley, crosreff dan DOAJ.

Tidak hanya itu, JBP juga menjadi kiblat bagi para pengelola jurnal yang baru berdiri di daerah, khususnya para pengelola jurnal milik Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah. Tidak jarang beberapa pengelola jurnal BPP Daerah meminta pengelola JBP untuk melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap jurnal mereka.

Seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh pengelola JBP yang melakukan pembinaan kepada beberapa pengelola jurnal BPP Daerah. Di antara BPP Daerah tersebut adalah Badan Litbang dan Diklat Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada Juni lalu, serta Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara( Kukar), Kalimantan Timur pada awal Agustus ini.
Selain pembinaan yang dilakukan secara langsung ke daerah, pengelola JBP juga menerima beberapa tamu yang datang dari daerah terkait hal yang sama, di antaranya dari BPP Daerah Pelalawan, Riau, BPP Daerah Kota Pontianak, dan BPP Daerah Kabupaten Siantar, Sumatera Utara, dan lain sebagainya.
Menurut Managing Editor JBP Moh. Ilham A Hamudy, JBP membuka secara lebar bagi siapa pun dan berasal dari manapun pengelola jurnal yang ingin berkonsultasi terkait pengelolaan jurnal ilmiah. Pembinaan yang dilakukan selama ini juga merupakan salah satu komitmen BPP Kemendagri sebagai pembina semua BPP yanga da di daerah.
“ Pembinaan terhadap BPP Daerah adalah salah satu kewajiban BPP Kemendagri selaku lembaga yang menaungi BPP Daerah. Dan kami tidak akan segan-segan jika seandainya diminta untuk datang secara langsung ke daerah, atau mereka datang ke sini, terkait pengelolaan jurnal ilmiah,” ucap Ilham.
Lebih lanjut kata Ilham, sebuah lembaga yang mengatasnamakan dirinya research and development, tidak akan terlepas dari dua hal, yakni keberadaan peneliti dan produk penelitian. Seseorang tidak bisa dikatakan peneliti jika tidak memiliki hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah.
“ Ibarat seorang penyanyi, tidak bisa dikatakan penyanyi jika tidak memiliki album atau single, sama halnya ketika seorang peneliti tidak punya hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terakreditasi. Kalau kita mau berkaca pada LIPI, maka yang dikenal adalah produk jurnal dan para peneliti mereka, sering muncul di televisi dan jadi pembicara di mana-mana,” kata Ilham.
Pembinaan jurnal daerah
Pada Juni dan Agustus 2016 pengelola JBP diundang secara khusus oleh BPP Daerah Kabupaten Sragen dan BPP Daeah Kabupaten Kutai Kartanegara. Undangan tersebut sebagai permintaan untuk melakukan pembinaan terhadap pengelolaan jurnal ilmiah mereka.
Berlakunya sistem akreditasi jurnal secara online per April 2016, tidak serta-merta membuat semua pengelola jurnal berbangga hati. Di sisi lain, banyak yang merasa kesulitan karena harus bermigrasi ke dalam sistem online. Terlebih, masih banyaknya pengelolaan jurnal secara konvensional atau cetak yang belum baik bahkan belum lama berdiri. Tentu saja, istilah-istilah baru seperti Open Journal System( OJS), DOAJ, DOI, dan sebagainya yang terdapat dalam jurnal online terasa asing bagi mereka. Sementara tuntutan untuk terbit dalam versi online tidak bisa dimungkiri, karena sebuah jurnal terakreditasi begitu penting bagi peneliti.
Keberhasilan JBP yang berpindah dari cetak menuju online sejak awal 2016, menjadikan JBP sebagai salah satu jurnal yang dire-
26 VOLUME 1 NO 3 | AGUSTUS 2016