jumlahnya cukup fantastis. Pada 2016 saja mendapat anggaran 1,1 Triliun dari APBN dan PNBP, sementara untuk 2017 mendapat 1,13 triliun, dan setiap tahunnya selalu naik.
Namun, anggaran yang tidak sedikit itu, sebagian besar memang digunakan untuk penelitian yang diprogramkan khusus oleh Kementerian Kesehatan. Dari total anggaran 2017, kebutuhan untuk gaji para pegawai mendapat porsi 158,7 miliar, PNBP 3,1 miliar, Operasional 74,6 miliar, Manajemen 80,4 miliar, Alat 26,7 miliar, Gedung 74,8 miliar, dan penelitian 716,1 miliar.“ Jadi bisa dibilang 70 persen dana yang kita dapat itu untuk penelitian,” ungkap Nirmala Ahmad Ma’ ruf Kabag Perencanaan dan Informasi Balitbang Kementerian Kesehatan.
Tujuh puluh persen anggaran tersebut kemudian dibagi untuk enam penelitian. Yakni Riskesnas( Riset Kesehatan Nasional), Riset Prioritas, Riset Tupoksi, Riset Kajian, Riset Kompetitif, dan Riset Kontijensi.“ Yang kami utamakan memang Riskesnas ya, karena sebelum 2014, program Riskesnas kami hanya satu dalam setahun, sekarang ada tiga penelitian yang kami fokuskan,” terangnya.
Riskesnas sendiri mendapat porsi sekira 476 miliar atau hampir 58 persen dari kelima riset yang ada. Pada 2017, program yang diutamakan dalam Riskesnas Kemenkes lainnya berupa survei kesehatan indikator nasional.“ Kita punya tugas untuk mengevaluasi kinerja dari program, dari sisi masyarakat. Misal cakupan imunisasi selama ini laporannya yang kita dengar dari tim fasilitator( bidan atau posyandu setempat), sekarang kita coba wawancara masyarakat, benar sudah diimuniasi atau belum. Setelah selesai kita membandingkan data dari masyarakat dan fasilitator. Benar terlaksana tidak. Selain itu kita ada IPKM( Indikator Prestasi Kesehatan Masyarakat di daerah), kita bisa ranking mana saja daerah yang sudah maju, mana yang belum,” katanya.
Dari satu penelitian dalam Riskesnas saja, Ma’ ruf menjelaskan, dibutuhkan sekira 80-90 miliar yang dilaksanakan dalam jangka waktu enam bulan.“ Bisa dibayangkan betapa kewalahan kami, belum riset permintaan program dan sebagainya,” tambahnya.
Pada 2016 Balitbangkes mendapat anggaran 1,1 Triliun dari APBN dan PNBP, sementara untuk 2017 mendapat 1,13 triliun, dan setiap tahunnya selalu naik. Struktur anggaran Balitbangkes, 70 persen digunukan untuk penelitian
Sementara, riset yang lain seperti riset prioritas merupakan riset yang berbasis prioritas dari program yang sudah dicanangkan selama setahun. Dan riset tupoksi lebih kepada kebutuhan pusat dan permintaan daerah. Masing-masing riset tersebut mendapat porsi 123 miliar dan 96 miliar.“ Riset prioritas ini juga sebagian juga membantu Riskesnas. Karena ini merupakan hasil pertemuan multilateral meeting antara Kemenkes, Bappenas, dan Kemenkeu,” imbuhnya
Selanjutnya, Balitbangkes juga memunyai riset kajian yang diberikan di masing-masing pusat. Balitbangkes sendiri memunyai empat pusat dan satu sekretariat, yakni Puslitbang Biomedik dan Teknologi Dasar Kesehatan, Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan, Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat, dan Humaniora dan Manajemen Kesehatan.“ Kajian kita beri masing-masing 500 juta per pusat. Mereka akan melakukan riset dan kajian, dan yang paling baru kita ada riset pembinaan teknologi kedokteran, yakni tugasnya melakukan pembinaan unit-unit lembaga litbang kedokteran. Itu saja menghabiskan dana 200-250 juta / riset,” jelasnya.
Lalu ada riset kajian kompetitif untuk mendukung semangat para peneliti Balitbangkes yang bersaing dengan hasil-hasil penelitian yang sifatnya untuk kompetitif, Balitbangkes sengaja menganggarkan itu sebesar 14 miliar. Selanjutnya, Balitbangkes menyediakan dana cadangan untuk riset yang pasti akan digunakan setiap tahunnya, dana ini mereka beri nama Riset Kontijensi yang dicadangkan sebesar 1 miliar.
“ Riset ini gunanya jika ada hal yang di luar dugaan, misalnya KLB( Kejadian Luar Biasa) atau kebakaran lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan, itu kan kejadian yang di luar rancangan kita. Kita berikan pada Sekretariat, nanti masing-masing pusat jika berkepentingan denga riset yang sesuai mengajukan anggaran ke Sekretariat, karena kita kan Kementerian Kesehatan ya, harus siap dan siaga jika kemungkinan-kemungkinan itu terjadi. Tapi selama ini setiap tahun selalu ada,” selorohnya.
Saat ditanya, apakah selama ini dirasa cukup anggaran sebesar itu dengan program yang juga sangat banyak, Ma’ ruf berkata“ Secara anggaran global, kita meningkat terus tiap tahun. Tapi kalau pelaksanaan, jadinya tidak murni sebesar itu anggarannya karena ada alasan efsiensi pemerintah. Namun sejauh ini, anggaran lebih dari cukup,” kata Ma’ ruf sambil tersenyum.( IFR)
VOLUME 1 NO 3 | AGUSTUS 2016 13