Majalah Shift Indonesia - ISSUE 6 2013 Maret 2014 | Page 90
Solace
The View
Perbaiki atau
Hilangkan?
Oleh Suwandi
Chief Executive Majalah Shift dan
Direktur SSCX International.
Suatu hari, seorang teman menceritakan sebuah lelucon tentang seorang polisi. Dalam ceritanya, adalah petugas polisi
yang menghampiri seorang pria yang sedang menumpuk batu di tengah jalan. Polisi bertanya,
“Untuk apa kamu menumpuk batu-batu ini di tengah jalan?”
Pria itu mengangkat kepala, menghentikan pekerjaannya, dan
dengan serius menjawab, “Batu-batu ini bisa jadi tempat lampu, Pak!”
“Untuk apa kamu membuat tempat lampu?” tanya polisi dengan heran.
Si pria menjawab dengan yakin, “Ya supaya kalau malam kendaraan
bisa melihat batu-batu ini dan tidak menabraknya, Pak!”
Lelucon ini mengingatkan saya kepada salah satu kalimat Peter Drucker: “Nothing is less productive than to make more
efficient what should not be done at all.”
Artikel ini saya tulis setelah mengikuti satu sesi review dan presentasi dalam proyek problem solving di perusahaan klien
SSCX. Dalam salah satu proyek SSCX yang menurut saya paling menarik dan menantang itu, CEO perusahaan terlibat aktif
pada sesi review ini.
Pada salah satu sesi, seorang problem solver menyampaikan bahwa ia membutuhkan semacam pembungkus dari
plastik untuk mencegah cipratan minyak pelumas. CEO yang brilian itu memberi salah satu pertanyaan provokatif yang
mengubah arah diskusi, “Apakah ada alat substitusi yang tidak membutuhkan minyak pelumas?”
Dapatkah Anda melihat perbedaannya? Kadang kita sibuk memikirkan solusi untuk masalah yang kita hadapi. Padahal,
masalah tersebut sebaiknya tidak diperbaiki. Alih-alih memberikan solusi perbaikan, seharusnya kita mengambil langkah
untuk langsung menghilangkannya. Mengapa? Karena kadang proses yang mendatangkan masalah tidak memberikan
value sama sekali pada hasil akhir proses. Seringkali kita mudah terpancing untuk menuntaskan masalah yang ada, tanpa
benar-benar memikirkan apakah masalah tersebut sebenarnya bisa dituntaskan dengan mengganti cara atau langkah
kerja.
Kita sebenarnya dapat mulai melakukannya dengan menambahkan satu pertanyaan sebelum masuk kepada aktifitas
problem solving tersebut, yaitu: Masalah apa yang sedang kita hadapi?***
90 | Shift Issue I | 2014