rubrik utama
Kupas Soft Skill
DALAM SOSOK ALUMNI
HENDRY BUNARDI
K
etika seorang mahasiswa diberi
pertanyaan tentang apa alasannya
menentukan pilihan untuk kuliah
pada program studi yang dipilihnya,
tentu jawabannya berbagai ragam alasan.
Jawaban itu tergantung pada pengalaman
hidup dan persepsi diri yang terbentuk pada
dirinya.
Pertimbangan yang mendorong
orang berada pada kondisi dan situasi
tertentu, antara lain karena unsur kompetensi,
minat dan bakatnya, sehingga dia mengambil
kesimpulan dan memutuskan pilihannya
sesuai dengan kapasitas dirinya.
Demkian pula halnya dengan
Hendry Bunardi, seorang Area Business
Leader Jateng pada Bank BTPN, yang
pernah mengalami kawah candradimukanya
STIEB/Sekolah
Tinggi
Ilmu
Ekonomi
Bandung (sekarang Universitas Widyatama).
Kesuksesan
dirinya
mencapai
karier
seperti saat ini tidak datang tiba-tiba, atau
tidak didapatkannya dengan Cuma-cuma.
Memerlukan proses panjang dan berliku,
dalam penempaan diri yang luar biasa
beratnya bagi seorang pemuda seperti dia.
Satu dari sekian bukti keberhasilan
soft skill dalam aktivitas perkuliahan selama
masa studi di perguruan tinggi dapat kita
tinjau dari kisahnya sebagai berikut dibawah
ini.
Berikut ini kisah Hendry Bunardi
tentang kiprahnya semasa kuliah yang
memberi bekal soft skill padanya hingga
kini berhasil dalam kariernya di dunia
kerja. Pertama kali lulus SMA Taruna Bakti
Bandung (1993), cita-citanya melanjutkan
sekolah di Perguruan Tinggi terkenal Jakarta
(Universitas Trisakti) tidak diteruskan, karena
orangtuanya tidak menyetujuinya. Akhirnya
dia mengikuti kehendak orangtua agar dirinya
melanjutkan kuliah di kota Bandung saja,
dan memilih STIEB sebagai tempat untuk
menuntut ilmu. Setelah mengikuti masa
orientasi kampus yang diselenggarakan oleh
Senat Mahasiswa, “saya berniat mengikuti
kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia”
katanya mulai bercerita. Misalnya menjadi
anggota Resimen Mahasiswa (MENWA).
24
komunita 8 | September 2013
Kesuksesan dirinya
mencapai karier seperti
saat ini tidak datang
tiba-tiba, atau tidak
didapatkannya dengan
cuma-cuma.
Memerlukan proses
panjang dan berliku
Dimana proses seleksi di kampus cukup ketat
selama tiga bulan berlatih dari pukul 05.00
s/d 07.00 setiap hari. Pada tahun 1995 saya
menjadi utusan STIEB seorang diri mengikuti
Pendidikan Dasar Kemiliteran di Depo
Bela Negara Cikole Lembang selama tiga
minggu. Tempaan fisik dan mental selama
mengikuti pendidikan dasar kemiliteran itu
sangat bermanfaat pada kehidupan saya
dikemudian hari. Disamping aktif sebagai
anggota Menwa di kampus, saya bersama
lima orang teman membangun usaha counter
handphone dengan modal awal hanya Rp. 1
juta per orang. Baru berjalan 1 bulan counter
kami dibobol maling, namun kami tidak putus
asa, dalam jangka waktu kurang dari dua
tahun kami telah mempunyai 6 counter HP.
Meskipun kesibukan kuliah begitu
padat, namun aktivitas sebagai anggota
Menwa tidak berkurang dan dengan latar
belakang sebagai atlit olahraga Tae Kwon
Do (semasa SMU /SMU Taruna Bakti saya
pernah menjadi juara I kelas Feather putra
pada kejuaraan Tae Kwon Do antar SMU se
Bandung raya). Waktu itu saya mengutarakan
gagasan untuk dari beberapa teman-teman
yang akhirnya membentuk kepanitiaan
(saya ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana).
Namun
pengurus
Senat
Mahasiswa
(sekarang PEMA/Pemerintahan Mahasiswa)
meragukan gagasan ini, bahkan kurang
memberikan dukungannya.
Berkat kekompakan Kepanitiaan
yang mempunyai visi sama dan akan
membuat sejarah yaitu menyelenggarakan
kejuaraan Tae Kwon Do Tingkat SMU se-
Jabar yang pertama kali di lingkungan kampus
STIEB akhirnya terwujud dan sukses.
Di kemudian hari kejuaraan ini
setiap tahun pesertanya semakin meningkat
jumlahnya. Bahkan bukan hanya pada tingkat
se-provinsi Jabar saja, namun sudah sampai
pada tingkat nasional /se-Indonesia. Dengan
adanya kejuaraan ini STIEB (Universitas
Widyatama) mulai dikenal masyarakat secara
luas. Universitas Widyatama pernah menjadi
juara umum kejuaraan Tae Kwon Do Tingkat
Mahasiswa se-Indonesia selama 9 kali. Suatu
prestasi yang membanggakan tentunya.
Pada tahun 1997 s/d 1999
saya ditunjuk sebagai Komandan Kompi
Menwa STIEB. Semasa periode itu saya
merasakan bagaimana belajar sebagai
seorang pemimpin/leader, dimana kami
sukses
menyelenggarakan
pengabdian
masyarakat (BINTER/Pembinaan Teritorial,
istilah di lingkungan Menwa) dengan
membangun saluran air bersih bagi warga
desa, membangun MCK (Mandi,cuci,kakus)
Umum, dll.
Tahun 1999 saya menyelesaikan
kuliah, dimana waktu untuk menyiapkan
skripsi hanya dalam dua bulan. Disamping itu
usaha counter handphone akhirnya ditutup
setelah saya beralih bergabung menjadi
Marketing di Standard Chartered Bank, karena
ada penawaran dari seorang adik kelas (sdr
Tedja Kurnia/mantan ketua KOPMA STIEB).
Dalam waktu 1,5 tahun saya menjadi Sales
Manager di Bank tersebut, memimpin 3 team
dengan 30 orang staff. Hal ini saya rasakan
sebagai hasil selama kuliah dan pengalaman
dalam kegiatan berorganisasi di kampus.
Tahun 2005 saya direkruit oleh
Bank ABN AMRO (Bank Belanda) dan dalam
jangka waktu lima tahun menjabat sebagai
Area Sales Manager.
Apalagi ditambah
dengan
kemampuannya
menjalin
komunikasi
(mendengarkan ide orang,
melakukan presentasi,dan
menuangkan
informasi
dalam tulisan / proposal)
dan kemampuan berfikir
kritis dan kreatif, serta
kemampuan memimpin dan
memahami tata aturan yang
berlaku di lingkungannya.
Secara proses alamiah
d ala mpe rgau la n
berorganisasi
tersebut,
m e m b u k t i k a n
Hendry Bunardi (kiri) mewakili Bank BTPN menyerahkan ucapan
bahwa telah terjadi
terimakasih kepada RS Santo Boromeus atas partisipasinya pada
suatu
jalinan yang
Program Sahabat Daya.
saling mengisi antar
Namun kembali saya direkruit oleh komponen dari soft skill dengan proses belajar
Bank BTPN (Bank Tabungan Pensiunan mengajar dalam perkuliahan. Pada komponen
Nasional) sebagai AVP Level, hanya dalam Intrapersonal skills (self - knowledge, self
jangka waktu satu tahun saya dipercaya - regulation, time management, sense
memegang 9 cabang di Jawa Tengah of purpose) ; pembentukan diri selama
menjabat sebagai Vice Pr esident dengan berproses dalam kegiatan perkuliahan secara
jumlah staf sebanyak 200 orang. Disamping tidak langsung terbentuk karena penempaan
itu dilingkungan masyarakat dipercaya diri melalui kegiatan pendisiplinan diri dalam
juga dalam organisasi Pelestarian Burung latihan Dasar Kemiliteran dan latihan beladiri
Indonesia sebagai Ketua Pengurus Burung Tae Kwon Do, sehingga yang bersangkutan
Indonesia Cabang Bandung. Sebagai dapat mengelola diri karena berada dalam
alumnus saya masih tetap memberikan budaya disiplin yang baik.
kontribusi berupa bimbingan kepada adik-
Interpersonal skills (coordinating/team-
adik Menwa dan menyelenggarakan kuliah work,
managing
conflict,
decision
umum kewirausahaan (UMKM) dengan making, planing & organizing); hal ini
pembicara Bpk. Prof. Dorojatun Kuncoro diperolehnya melalui kegiatan kepanitiaan
Jakti. Namun tidak hanya itu saja, kegiatan yang mengharuskan bekerjasama dalam
lainnya yaitu mengadakan juga kegiatan Tim, melatih bertindak bijaksana ketika
refreshing menembak untuk para anggota menghadapi masalah hubungan antar
Menwa aktif, alumni, pegawai Yayasan dan anggota panitia.
Rektorat, dosen, unit kegiatan mahasiswa
Communication skills (listening, oral
lainnya di Universitas Widyatama Bandung. communication, written communication);
Pengalaman Hendry Bunardi tersebut di thinking skills (critical thinking, creative
atas menggambarkan secara alamiah proses thinking);
melalui kewajibannya harus
long-life learning membentuk diri selama bertemu dengan organisasi lain selama
kegiatan kuliah, yaitu yang bersangkutan berproses dalam kegiatan Unit kegiatan
memilih pembentukan diri selain melalui Mahasiswa /UKM maupun kepanitiaan
proses perkuliahan tatap muka, juga even kejuaraan, dan sebagainya. Hal ini
kegiatan organisasi ekstrakurikuler. Misalkan memaksa yang bersangkutan mengerahkan
untuk komponen soft skill : intrapersonal, kemampuan dirinya untuk mengembangkan
interpersonal,
communication,
thinking kemampuan
berkomunikasi
dengan
(critical & Creative), leadership and ethics. baik. Leadership; hal ini didapatnya dari
Mayoritas diperoleh dari proses berinteraksi kepercayaan yang diberikan kepadanya
dalam kegiatannya di lingkungan organisasi.
sebagai ketua panitia pelaksana dalam
Pengalaman memimpin kepanitiaan kejuaraan Tae Kwon Do dan Komandan
kejuaraan Tae Kwon Do dan sebagai Kompi Menwa, secara proses alamiah selama
komandan
Kompi
Menwa
disamping menjalankan tugas dan tanggungjawabnya
kemampuan diri dalam pengetahuan, tata berjalan dengan baik. Ethics;
melalui
nilai, pengaturan waktu, juga kemampuan aktivitasnya di lingkungan Unit Kegiatan
berkoordinasi dalam teamwork, mengatur Mahasiswa dimana yang bersangkutan
konflik / managing conflict, pengambilan belajar memahami tentang nilai-nilai etika
keputusan,
menyusun
rencana
dan yang berlaku di lingkungan masyarakat baik
mengendalikan pelaksanaannya.
kampus maupun masyarakat luar kampus
(ketika
yang
bersangkutan
harus
mengkomunikasikan
dengan
pihak
luar kampus). Disamping itu juga dapat
menentukan
standar-standar
pergaulan
mana yang harus diikuti dan mana yang tidak
boleh diikuti dalam diri seseorang.
Oleh karenanya pada kenyataan di dunia
kerja telah membuktikan bahwa umumnya
mahasiswa yang sering atau pernah
aktif dalam organisasi kemahasiswaan
lebih survive dan kariernya lebih mapan
dibandingkan mereka yang tidak pernah ikut
organisasi kemahasiswaan atau organisasi
lainnya.
Soft skill sebagai materi disisi
lain, disamping proses kegiatan belajar
mengajar merupakan proses pembentukan
diri bagi mahasiswa yang sedang menuntut
ilmu di perguruan tinggi. Kehadirannya
tidak langsung nampak dalam kurikulum
pembelajaran yang ada, namun harusnya
melekat atau berdampingan dengan proses
belajar mengajar pada mata kuliah yang
tercantum dalam kurikulum.
Keberhasilan soft skill tergambarkan
seperti kisah sdr. Hendry Bunardi tersebut
diatas, namun hal ini sangat tergantung pada
kesadaran sang mahasiswa itu sendiri untuk
memilih jalan yang akan ditempuh selama dia
mengikuti proses perkuliahan.
Suatu pertanyaan “Apakah perlu di
fasilitasi wadah untuk pembentukan karakter
diri mahasiswa itu melalui aktivitas soft skill,
dengan cara mewajibkan para mahasiswa
untuk memilih aktivitas non kurikuler yang
mengandung materi soft skill disamping
aktivitas rutin perkuliahannya? “Akhirnya
kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa
materi yang mengandung soft skill ternyata
sangat baik dan penting disediakan untuk
mendampingi kegiatan kurikuler perkulihan
rutin dalam rangka membentuk kader
pemimpin yang unggul. (EB. Misnan).
pada kenyataan di
dunia kerja telah
membuktikan
bahwa umumnya
mahasiswa yang
sering atau pernah
aktif dalam organisasi
kemahasiswaan lebih
survive dan kariernya
lebih mapan
komunita 8 | September 2013
25