MAJALAH KOMUNITA SEPTEMBER 2013 | Page 24

rubrik utama Kupas Soft Skill DALAM SOSOK ALUMNI HENDRY BUNARDI K etika seorang mahasiswa diberi pertanyaan tentang apa alasannya menentukan pilihan untuk kuliah pada program studi yang dipilihnya, tentu jawabannya berbagai ragam alasan. Jawaban itu tergantung pada pengalaman hidup dan persepsi diri yang terbentuk pada dirinya. Pertimbangan yang mendorong orang berada pada kondisi dan situasi tertentu, antara lain karena unsur kompetensi, minat dan bakatnya, sehingga dia mengambil kesimpulan dan memutuskan pilihannya sesuai dengan kapasitas dirinya. Demkian pula halnya dengan Hendry Bunardi, seorang Area Business Leader Jateng pada Bank BTPN, yang pernah mengalami kawah candradimukanya STIEB/Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bandung (sekarang Universitas Widyatama). Kesuksesan dirinya mencapai karier seperti saat ini tidak datang tiba-tiba, atau tidak didapatkannya dengan Cuma-cuma. Memerlukan proses panjang dan berliku, dalam penempaan diri yang luar biasa beratnya bagi seorang pemuda seperti dia. Satu dari sekian bukti keberhasilan soft skill dalam aktivitas perkuliahan selama masa studi di perguruan tinggi dapat kita tinjau dari kisahnya sebagai berikut dibawah ini. Berikut ini kisah Hendry Bunardi tentang kiprahnya semasa kuliah yang memberi bekal soft skill padanya hingga kini berhasil dalam kariernya di dunia kerja. Pertama kali lulus SMA Taruna Bakti Bandung (1993), cita-citanya melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi terkenal Jakarta (Universitas Trisakti) tidak diteruskan, karena orangtuanya tidak menyetujuinya. Akhirnya dia mengikuti kehendak orangtua agar dirinya melanjutkan kuliah di kota Bandung saja, dan memilih STIEB sebagai tempat untuk menuntut ilmu. Setelah mengikuti masa orientasi kampus yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa, “saya berniat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia” katanya mulai bercerita. Misalnya menjadi anggota Resimen Mahasiswa (MENWA). 24 komunita 8 | September 2013 Kesuksesan dirinya mencapai karier seperti saat ini tidak datang tiba-tiba, atau tidak didapatkannya dengan cuma-cuma. Memerlukan proses panjang dan berliku Dimana proses seleksi di kampus cukup ketat selama tiga bulan berlatih dari pukul 05.00 s/d 07.00 setiap hari. Pada tahun 1995 saya menjadi utusan STIEB seorang diri mengikuti Pendidikan Dasar Kemiliteran di Depo Bela Negara Cikole Lembang selama tiga minggu. Tempaan fisik dan mental selama mengikuti pendidikan dasar kemiliteran itu sangat bermanfaat pada kehidupan saya dikemudian hari. Disamping aktif sebagai anggota Menwa di kampus, saya bersama lima orang teman membangun usaha counter handphone dengan modal awal hanya Rp. 1 juta per orang. Baru berjalan 1 bulan counter kami dibobol maling, namun kami tidak putus asa, dalam jangka waktu kurang dari dua tahun kami telah mempunyai 6 counter HP. Meskipun kesibukan kuliah begitu padat, namun aktivitas sebagai anggota Menwa tidak berkurang dan dengan latar belakang sebagai atlit olahraga Tae Kwon Do (semasa SMU /SMU Taruna Bakti saya pernah menjadi juara I kelas Feather putra pada kejuaraan Tae Kwon Do antar SMU se Bandung raya). Waktu itu saya mengutarakan gagasan untuk dari beberapa teman-teman yang akhirnya membentuk kepanitiaan (saya ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana). Namun pengurus Senat Mahasiswa (sekarang PEMA/Pemerintahan Mahasiswa) meragukan gagasan ini, bahkan kurang memberikan dukungannya. Berkat kekompakan Kepanitiaan yang mempunyai visi sama dan akan membuat sejarah yaitu menyelenggarakan kejuaraan Tae Kwon Do Tingkat SMU se- Jabar yang pertama kali di lingkungan kampus STIEB akhirnya terwujud dan sukses. Di kemudian hari kejuaraan ini setiap tahun pesertanya semakin meningkat jumlahnya. Bahkan bukan hanya pada tingkat se-provinsi Jabar saja, namun sudah sampai pada tingkat nasional /se-Indonesia. Dengan adanya kejuaraan ini STIEB (Universitas Widyatama) mulai dikenal masyarakat secara luas. Universitas Widyatama pernah menjadi juara umum kejuaraan Tae Kwon Do Tingkat Mahasiswa se-Indonesia selama 9 kali. Suatu prestasi yang membanggakan tentunya. Pada tahun 1997 s/d 1999 saya ditunjuk sebagai Komandan Kompi Menwa STIEB. Semasa periode itu saya merasakan bagaimana belajar sebagai seorang pemimpin/leader, dimana kami sukses menyelenggarakan pengabdian masyarakat (BINTER/Pembinaan Teritorial, istilah di lingkungan Menwa) dengan membangun saluran air bersih bagi warga desa, membangun MCK (Mandi,cuci,kakus) Umum, dll. Tahun 1999 saya menyelesaikan kuliah, dimana waktu untuk menyiapkan skripsi hanya dalam dua bulan. Disamping itu usaha counter handphone akhirnya ditutup setelah saya beralih bergabung menjadi Marketing di Standard Chartered Bank, karena ada penawaran dari seorang adik kelas (sdr Tedja Kurnia/mantan ketua KOPMA STIEB). Dalam waktu 1,5 tahun saya menjadi Sales Manager di Bank tersebut, memimpin 3 team dengan 30 orang staff. Hal ini saya rasakan sebagai hasil selama kuliah dan pengalaman dalam kegiatan berorganisasi di kampus. Tahun 2005 saya direkruit oleh Bank ABN AMRO (Bank Belanda) dan dalam jangka waktu lima tahun menjabat sebagai Area Sales Manager. Apalagi ditambah dengan kemampuannya menjalin komunikasi (mendengarkan ide orang, melakukan presentasi,dan menuangkan informasi dalam tulisan / proposal) dan kemampuan berfikir kritis dan kreatif, serta kemampuan memimpin dan memahami tata aturan yang berlaku di lingkungannya. Secara proses alamiah d ala mpe rgau la n berorganisasi tersebut, m e m b u k t i k a n Hendry Bunardi (kiri) mewakili Bank BTPN menyerahkan ucapan bahwa telah terjadi terimakasih kepada RS Santo Boromeus atas partisipasinya pada suatu jalinan yang Program Sahabat Daya. saling mengisi antar Namun kembali saya direkruit oleh komponen dari soft skill dengan proses belajar Bank BTPN (Bank Tabungan Pensiunan mengajar dalam perkuliahan. Pada komponen Nasional) sebagai AVP Level, hanya dalam Intrapersonal skills (self - knowledge, self jangka waktu satu tahun saya dipercaya - regulation, time management, sense memegang 9 cabang di Jawa Tengah of purpose) ; pembentukan diri selama menjabat sebagai Vice Pr esident dengan berproses dalam kegiatan perkuliahan secara jumlah staf sebanyak 200 orang. Disamping tidak langsung terbentuk karena penempaan itu dilingkungan masyarakat dipercaya diri melalui kegiatan pendisiplinan diri dalam juga dalam organisasi Pelestarian Burung latihan Dasar Kemiliteran dan latihan beladiri Indonesia sebagai Ketua Pengurus Burung Tae Kwon Do, sehingga yang bersangkutan Indonesia Cabang Bandung. Sebagai dapat mengelola diri karena berada dalam alumnus saya masih tetap memberikan budaya disiplin yang baik. kontribusi berupa bimbingan kepada adik- Interpersonal skills (coordinating/team- adik Menwa dan menyelenggarakan kuliah work, managing conflict, decision umum kewirausahaan (UMKM) dengan making, planing & organizing); hal ini pembicara Bpk. Prof. Dorojatun Kuncoro diperolehnya melalui kegiatan kepanitiaan Jakti. Namun tidak hanya itu saja, kegiatan yang mengharuskan bekerjasama dalam lainnya yaitu mengadakan juga kegiatan Tim, melatih bertindak bijaksana ketika refreshing menembak untuk para anggota menghadapi masalah hubungan antar Menwa aktif, alumni, pegawai Yayasan dan anggota panitia. Rektorat, dosen, unit kegiatan mahasiswa Communication skills (listening, oral lainnya di Universitas Widyatama Bandung. communication, written communication); Pengalaman Hendry Bunardi tersebut di thinking skills (critical thinking, creative atas menggambarkan secara alamiah proses thinking); melalui kewajibannya harus long-life learning membentuk diri selama bertemu dengan organisasi lain selama kegiatan kuliah, yaitu yang bersangkutan berproses dalam kegiatan Unit kegiatan memilih pembentukan diri selain melalui Mahasiswa /UKM maupun kepanitiaan proses perkuliahan tatap muka, juga even kejuaraan, dan sebagainya. Hal ini kegiatan organisasi ekstrakurikuler. Misalkan memaksa yang bersangkutan mengerahkan untuk komponen soft skill : intrapersonal, kemampuan dirinya untuk mengembangkan interpersonal, communication, thinking kemampuan berkomunikasi dengan (critical & Creative), leadership and ethics. baik. Leadership; hal ini didapatnya dari Mayoritas diperoleh dari proses berinteraksi kepercayaan yang diberikan kepadanya dalam kegiatannya di lingkungan organisasi. sebagai ketua panitia pelaksana dalam Pengalaman memimpin kepanitiaan kejuaraan Tae Kwon Do dan Komandan kejuaraan Tae Kwon Do dan sebagai Kompi Menwa, secara proses alamiah selama komandan Kompi Menwa disamping menjalankan tugas dan tanggungjawabnya kemampuan diri dalam pengetahuan, tata berjalan dengan baik. Ethics; melalui nilai, pengaturan waktu, juga kemampuan aktivitasnya di lingkungan Unit Kegiatan berkoordinasi dalam teamwork, mengatur Mahasiswa dimana yang bersangkutan konflik / managing conflict, pengambilan belajar memahami tentang nilai-nilai etika keputusan, menyusun rencana dan yang berlaku di lingkungan masyarakat baik mengendalikan pelaksanaannya. kampus maupun masyarakat luar kampus (ketika yang bersangkutan harus mengkomunikasikan dengan pihak luar kampus). Disamping itu juga dapat menentukan standar-standar pergaulan mana yang harus diikuti dan mana yang tidak boleh diikuti dalam diri seseorang. Oleh karenanya pada kenyataan di dunia kerja telah membuktikan bahwa umumnya mahasiswa yang sering atau pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan lebih survive dan kariernya lebih mapan dibandingkan mereka yang tidak pernah ikut organisasi kemahasiswaan atau organisasi lainnya. Soft skill sebagai materi disisi lain, disamping proses kegiatan belajar mengajar merupakan proses pembentukan diri bagi mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Kehadirannya tidak langsung nampak dalam kurikulum pembelajaran yang ada, namun harusnya melekat atau berdampingan dengan proses belajar mengajar pada mata kuliah yang tercantum dalam kurikulum. Keberhasilan soft skill tergambarkan seperti kisah sdr. Hendry Bunardi tersebut diatas, namun hal ini sangat tergantung pada kesadaran sang mahasiswa itu sendiri untuk memilih jalan yang akan ditempuh selama dia mengikuti proses perkuliahan. Suatu pertanyaan “Apakah perlu di fasilitasi wadah untuk pembentukan karakter diri mahasiswa itu melalui aktivitas soft skill, dengan cara mewajibkan para mahasiswa untuk memilih aktivitas non kurikuler yang mengandung materi soft skill disamping aktivitas rutin perkuliahannya? “Akhirnya kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa materi yang mengandung soft skill ternyata sangat baik dan penting disediakan untuk mendampingi kegiatan kurikuler perkulihan rutin dalam rangka membentuk kader pemimpin yang unggul. (EB. Misnan). pada kenyataan di dunia kerja telah membuktikan bahwa umumnya mahasiswa yang sering atau pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan lebih survive dan kariernya lebih mapan komunita 8 | September 2013 25