rubrik utama
SOFT SKILL
DALAM PERSPEKTIF PENDIDIK
“Peran ilmu pengetahuan yang diperoleh dari kuliah adalah sangat penting, terutama pada awal karir seseorang.
Pada tahap selanjutnya, baru soft skills yang sangat menonjol kebutuhannya. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin
canggih soft skills yang dibutuhkan.” ( Zulkifli Zaini Direktur Distribution Network PT Bank Mandiri)
K
i Hajar Dewantara peletak dasar
pendidikan nasional menegaskan
bahwa
kompetensi
pendidikan
seharusnya
mendorong
agar
manusia dapat hidup mempunyai kecakapan
dasar, memiliki pengetahuan (knowledge),
keterampilan (skill) yang dapat dipelajari, sikap
(attitude) yang arif, rendah hati dan manusiawi.
Hal ini dipertegas UU No. 12 tentang Pendidikan
Tinggi bahwa pendidikan tinggi sebagai jenjang
terakhir pendidikan formal berfungsi :
a. mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa;
b. mengembangkan Civitas Akademika yang
inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya
saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan
Tridharma; dan
c. mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi
dengan
memperhatikan
dan
menerapkan nilai Humaniora.
Ketiga fungsi tersebut sesungguhnya
memiliki
nilai-nilai
karakter
yang
di
dalamnya tentu terkandung substansi soft skill.
Persoalannya banyak perguruan tinggi dalam
rangka meningkatkan mutu pendidikannya
lebih berorientasi pada peningkatan IPK (Indeks
Prestasi Kumulatif) dan lulus tepat waktu sebagai
indikator keberhasilan peningkatan mutu,
dibanding menguatkan aspek soft skill. Belum
banyak terlihat kebijakan yang terstruktur dalam
proses pembelajaran di perguruan tinggi yang
memberi porsi yang memadai bagi substansi soft
skill.
Disinyalir hanya perguruan tinggi
tertentu yang memberi perhatian mendasar pada
hakekat fungsi pendidikan tinggi sebagaimana
tersebut di atas, termasuk bagaimana soft skill
dikembangkan untuk mengurangi kesenjangan
kompetensi lulusan agar diserap dunia kerja.
Prof.Dr.H Sunary0 Kartadinata, M.Pd
16
komunita 8 | September 2013
Tampaknya perlu belajar dari Skenario India.
Laporan NASS-COM terbaru mendukung fakta
yang menyatakan bahwa 75 % dari para insinyur
tidak dipekerjakan karena fokusnya selalu
pada akademisi dan teori. Ini menunjukkan
krisis soft skill yang merupakan fenomena
universal. Tetapi justru masala h dan alasan India
menyelenggarakan pendidikan tinggi mengacu
pada alasan-alasan yang naif :
• Sistem pendidikan dirancang memaksa
siswa untuk lebih berkonsentrasi pada belajar
hafalan dari pada mengembangkan semangat
penyelidikan, yang merupakan faktor yang
paling dominan untuk mencapai keberhasilan
di tempat kerja .
• Selama pendidikan di perguruan tinggi,
banyak insinyur mengabaikan mempelajari
humaniora, bahasa dan seni. Dalam proses ini,
perkembangan untuk melengkapi kecerdasan
manusia dan fakultas seperti kreativitas dan
keterampilan antar-pribadi menjadi terhambat.
Bagaimana
praktek
pendidikan
tinggi dalam perspektif perguruan tinggi kita ?
Rektor UPI, Prof. Sunaryo menegaskan bahwa
esensi perguruan tinggi adalah selain mencetak
individu yang memiliki ilmu juga harus dapat
melahirkan individu-individu yang dapat
menerapkan ilmu yang didapatkannya sehingga
bermanfaat bagi masyarakat atau menjadi kata
hati umat manusia, kata hati bangsa dan bahkan
kata hati kehidupan. Untuk itu, setiap perguruan
tinggi memiliki otonomi untuk membuat pilihan
dan mempertanggungjawabkan hasil pilihannya
dalam memilih alternatif-alternatif untuk
melahirkan para sarjana yang terbaik. Esensi
tersebut tentunya harus terdapat benang merah
dengan kompetensi kebutuhan dunia kerja.
Karena itu, Prof. Sunaryo berpendapat
bahwa: paradigma dunia pendidikan harus
mulai dirubah sehingga para mahasiswa harus
mendapatkan juga soft skill sebagai penunjang
dalam percepatan kinerja dan karir saat
memasuki dunia kerja atau di masyarakat.
Intinya adalah para lulusan-lulusan perguruan
tinggi harus dibekali ilmu survival menghadapi
dunia kerja yang sangat bergerak cepat. Soft
skill yang meliputi kemampuan berkomunikasi,
bernegosiasi dan berfikir kreatif wajib dimiliki
para lulusan perguruan tinggi. Harap diingat
bahwa soft skill bukanlah ilmu yang dapat
dipelajari dalam waktu singkat, tetapi merupakan
life - long process yang memerlukan waktu lama
ditempa melalui berbagai dinamika kehidupan,
kehidupan
kampus
maupun
kehidupan
masyarakat dengan kemampuan fleksibilitas dan
adaptasi yang tinggi.
Yang paling utama perguruan
tinggi atau sekolah di jenjang sebelumnya
wajib menciptakan manusia yang siap belajar
sepanjang hayat. Salah satu strategi yang
dapat diterapkan oleh perguruan tinggi dalam
menyiapkan lulusan-lulusan yang handal dalam
menghadapi tekanan berat dalam dunia kerja
atau masyarakat adalah dengan memperkenalkan
sedini mungkin terhadap mahasiswa apa yang
akan dihadapinya di masa akan datang dengan
program yang dinamakan early exposure. Seperti
diterjunkan ke masyarakat sebagai bagian dari
training awal. Kemudahan fasilitas saat ini juga
seharusnya dijadikan sebagai penunjang untuk
mempermudah dalam proses belajar bagi para
mahasiswa, belajar lebih keras dan berusaha
lebih banyak.
Hal senada diungkapkan Prof. Ichsan
Setya Putra, Ketua Satuan Penjaminan Mutu
ITB bahwa dunia pendidikan seharusnya tidak
selalu menekankan pada kompetensi keilmuan
saja tetapi seperti yang dicantumkan di badan
akreditasi di Amerika Serikat. Badan Akreditasi di
Amerika memasukan soft skill di urutan tertinggi
porsinya. Disana juga dicantumkan kemampuan
berkomunikasi dan team work, memahami etika
profesi. Perlu juga menyadari pentingnya life-
long learning, memahami dari 11 kompetensi,
6 diantaranya masuk soft skill. Seperti contoh
berkaitan dengan kompetensi engineer di negara-
negara Eropa dan Amerika Serikat seorang
insinyur harus mampu mengimplikasikan
solusi-solusi tekniknya bagi masyarakat. Dari hal
tersebut dapat diketahui bahwa soft skill (dalam
hal ini empati) dicampurkan dengan keilmuan
teknik guna membuat masyarakat lebih maju
dengan kehadiran ilmu teknik. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kompetensi yang harus
dimiliki para mahasiswa adalah bukan hanya
kompetensi keilmuan yang dipelajarinya tetapi
juga problem solving skill dengan langkah kenali
masalah, sederhanakan masalah, buat model
dari masalah tersebut kemudian diselesaikan lalu
dievaluasi.
Pendidikan
karakter
dimulai
bagaimana seseorang bisa memberikan empati
(our under achievening collegues).
Intinya bagaimana melatih mahasiswa untuk
empati. Seharusnya Dosen memberikan team
dynamics theory. Contohnya dulu ada KKN
tematik (menyelesaikan masalah-masalah di
masyarakat) untuk membangun rasa empati.
Pendidikan pembentukan karakter dimulai dari
membangun rasa empati sehingga timbul rasa
ingin membangun atau memperbaiki sesuatu
yang kurang tepat yang akhirnya timbullah
integritas (kejujuran) dari setiap individu.
Mengenali pemahaman-pemahaman langkah
supaya terintegrasi yaitu dimulai dengan yang
pertama yaitu konsep, IPK (integritas, prestasi
dan komitmen), dirancang memasuki tahapan
yaitu akademik, cokurikuler dan extrakurikuler.
Perubahan perilaku mahasiwa itu tidak cukup
dengan membuat SK (surat keputusan).
Menumbuhkan soft skill memerlukan
environment yang mendukung yang terintegasi
antar dosen, mahasiswa, dan seluruh elemen
karyawan. Keberhasilan seseorang tidak
ditentukan dengan IPK atau IQ seseorang, tetapi
bagaimana seseorang bisa berinteraksi dengan
orang lain.
Interaksi sangat luas. Intrapersonal ke
dalam diri, sedang interpersonal dengan
sesama. Intrapersonal lebih pada kemampuan
mengendalikan emosi/emotional intelligence
(mengenali, memahami, mengendalikan dan
mengarahkan emosi), mengelola diri seperti
time management, selalu mengasah gergaji (long-
life kearning yaitu teknik belajar terus) seperti
olahraga yaitu mengasah dirinya untuk hidup
sehat, spiritual. Kemampuan berkomunikasi
interpersonal dengan orang lain tidak hanya
untuk berbicara tetapi juga mendengar individu
lain. Aktif di kegiatan himpunan (leadership &
sinergi). Sinergi artinya mencari jalan keluar
yang lebih baik dari dua pikiran yang berbeda,
mendengarkan dengan empati (emphatic
listening) memahami lawan bicara kita, sudut
pandang seseorang, kemampuan membentuk
team works. (Lee)
Redaktur komunita ketika mewawancarai Rektor UPI
komunita 8 | September 2013
17