K&G Magazine September 2016 | Page 7

SEJARAH

IKAN KOI

Sejarah Ikan Mahal dari Cina

Ikan Koi telah menjadi ikan mahal dan dicari para penggemar ikan hias di Indonesia, namun Ikan Koi sendiri berasal dari Cina yaitu sekitar tahun 1300-an. Jika kemudian diberitakan Koi mulai ngetop dan diklaim sebagai "produk" Jepang tentu ada alasannya.

Pusat pembenihan Koi di jepang terdapat di daerah pegunungan Ojiya, Niigata. Daerah ini terkenal sebagai penghasil Karper, karena penduduk di Ojiya banyak membudidayakan Karper untuk lauk mereka sewaktu musim panas. Pada waktu musim dingin, mereka tidak mungkin lakukan karena daerah tersebut tertutup salju. Sebelum cuaca menjadi dingin, Karper tersebut akan menempati kolam-kolam di dalam rumah, dan begitu melewati musim dingin Karper tersebut menjadi lauk bagi penduduk Ojiya.

Melalui suatu pembudidayaan selama bertahun-tahun, akhirnya diperoleh Strain yang berwarna merah atau biru cerah. Itulah yang menjadi titik awal yang menyemangati mereka untuk kemudian mencoba-coba menghasilkan Strain-Strain yang lebih indah. Akhirnya pada tahun 1870 didapatkanlah Kohaku (merah dan putih), menyusul pada tahun 1910 Shiroutsiiri (putih dan hitam) dan Kinutsuri (kuning dan hitam), garis keturunan mulai tampak dan merupakan suatu yang tidak bisa di-pungkiri.

Tahun 1930, mulailah ditemukan Karper warna dengan garis yang lain. Jika pada awal mulanya hanya satu warna, kemudian menyusul penemuan Koi dua dan tiga warna. Adapun koi-koi cantik yang mulai dikenal adalah Showa Sanke (merah, putih dan hitam). Selain itu muncul juga Koi dengan corak lain seperti Kinrin (sisik emas), Ginrin (sisik perak), dan Ogon (emas).

Pada tahun 1904, Jerman mengirimkan Koi dengan sisik yang tidak lengkap dan bahkan yang tidak bersisik sama sekali, sebagai hadiah kepada jepang. Mereka lantas menernakkan Koi jerman ini dengan tipe sisik standar untuk Koi, dan hasilnya melengkapi keanekaragaman dasar variasi pada sisik Koi. Jika Koi warna-warni Jepang dikenal sebagai Nishikigoi, maka koi Jerman ini populer dengan sebutan Doitsugoi (Koi Jerman). Dalam bahasa Jepang, Nishiki mengandung makna kain yang beraneka warna, sedangkan Goi artinya tidak lain adalah karper. Akan halnya Nishikigoi yang akhirnya populer dengan nama Koi.

Tanda cinta sang kaisar

Majalah Tropical Fsh Hobbiest, edisi September 1988, memuat tentang asal-usul kata Nishikigoi. Menurut sejarah Cina, ketika anak laki-laki tertua dari Kong-Zi lahir pada 533 SM, penguasa kerajaan Lu memberinya ikan sebagai hadiah ulang tahun. Ikan itu konon yang kita sebut Koi sekarang ini. Kata Koi, menurut cara penulisan Jepang, memang bisa menimbulkan dua makna yang berbeda. Makna pertama adalah ikan, sedang makna kedua adalah menjadi murni atau sempurna. Dari kedua makna ini, Koi bisa diartikan sebagai ikan yang mempunyai garis

rapi dan teratur pada sisik di badannya. Dengan lain perkataan, koi merupakan ikan yang benar-benar sangat menguntungkan dan sangat ideal

ntuk seni.

Cina ternyata mempunyai buku, yang dipercaya sebagai buku pertama dan tertua yang mengupas tentang koi,

yang bernama Yogyokyo. Tata cara pembudidayaan Koi, dan semua jenis

Koi dikupas dalam buku tersebut.

Dalam buku tersebut diuraikan juga tentang koi yang berwarna-warni

seperti merah, biru, hitam, putih, dan kuning.

Dengan kata lain terdapat rahasia yang masih tersimpan dalam buku Koi yang ditulis orang Jepang, seperti Hitachi-fudoki atau Nishonshoki.

Tomy Mulyawan

theracersman@gmail.com

7

Sumber http://uplixs-fish.blogspot.com/2007/11/koi.html