First You 10th Edition Embracing The Great Life | Page 37

AUDILYA GUNARTO A True Connoisseur Menikmati teh bukan lagi sekadar menghilangkan dahaga. Ada nilai budaya dan unsur kesehatan yang begitu tinggi dalam secangkir teh. B erjalan-jalan ke lantai satu di Galeries Lafayette, Pacific Place, Jakarta, Anda akan menemukan sebuah kedai teh dengan interior kayu hitam bertuliskan Leaf Connoisseur. Tempat yang menawarkan pengalaman menikmati teh yang unik di Jakarta ini memiliki cerita yang mendalam dan menarik untuk digali. First You berbincang dengan pemilik sekaligus CEO Leaf Connoisseur by Tea et Al, Audilya Gunarto, tentang keunikan dan kreasi teh yang disuguhkan di sini. Bagaimana awalnya Anda tertarik dengan dunia teh, lalu mendalaminya, hingga membangun Tea et Al? Saya hidup di lingkungan pencinta teh. Dari kecil saya sudah mengenal dengan baik bagaimana budaya meminum teh dari keluarga. Hal ini pada akhirnya membangkitkan minat saya untuk mendalami teh itu sendiri. Keluarga saya juga sudah memiliki bisnis sebagai produsen teh. Akhirnya saya pun memperdalam pengetahuan saya dengan mengikuti sertifikasi internasional untuk menjadi certified tea master dan certified tea blender. Ketika saya kuliah di Amerika Serikat, saya melihat banyak sekali jenis teh yang ada di dunia dan ternyata itu bisa dikreasikan. Saya pun melihat peluang besarnya menjual blended T EKS: D ELFA NI A R A M DA N . FOTO: SUTANTO tea dari suatu coffee shop internasional ternama, yang dengan berani membawa jenis minuman blended tea tersebut ke Indonesia. Dari situ, saya terpacu untuk merintis Tea et Al. Anda memperkenalkan Leaf Connoisseur kepada konsumen Indonesia. Bagaimana Anda muncul dengan konsep ini? Budaya teh di Indonesia itu sudah ada sedari dulu. Hanya saja, tidak banyak orang yang benar-benar tahu bagaimana menikmati teh dengan cara yang benar. Tea et Al berawal dari menjual secara retail yang akhirnya mendapatkan perhatian dari para konsumen. Hal itu yang memacu saya untuk meresmikan Leaf Connoisseur yang pertama kali buka di Galeries Lafayette, Pacific Place. Dengan mengangkat tema lifestyle, saya ingin konsumen yang datang menikmati teh di sini dapat menikmati momen kebersamaan dengan orang lain. Saya juga ingin ingin mengembalikan cara minum teh yang sebenarnya, merasakan sensasi minum teh yang berasal dari berbagai belahan dunia dan mengolahnya dengan benar. Jadi, tujuannya adalah untuk memberikan edukasi bahwa tidak hanya kopi yang bisa diolah dengan cara yang bermacam-macam, teh pun juga bisa. Perkembangan teh sekarang tentu telah lebih maju dari saat Anda me mulainya. Bagaimana Anda beradaptasi dengan tren minuman, khususnya teh? Sebagai tea master dan tea blender dari Tea et Al, saya bersama tim terus beradaptasi untuk memberikan pengalaman menikmati teh yang berbeda. Maksudnya adalah dengan mengembangkan berbagai menu- menu fusion tea yang beragam dan menarik yang disesuaikan dengan selera konsumen. Misalnya, untuk mengkreasikan teh dengan buah atau bunga serta cara penyajian lainnya. Jika berbicara mengenai tren on- the-go tea yang sekarang sedang marak dengan banyaknya retail di luar sana, Tea et Al telah memiliki rencana dan strategi untuk menyediakan pengalaman teh dengan konsep on-the-go ini. Dalam perjalanan bisnis Anda, apa tantangan terbesar dan bagaimana Anda menghadapinya? Tantangan terbesar dalam membangun bisnis adalah branding. Keluarga saya mulai dari pabrik teh untuk mengembangkan produk yang jenis bisnisnya adalah business to business. Sedangkan saya datang dengan konsep yang sangat berbeda dengan branding yang sudah ada. Apalagi dengan FIRST YOU 37