WAWANCARA
24
Semangat Patriotisme
Prajurit Angkatan Laut
S
iang yang panas itu tidak menyurutkan semangat
tim redaksi cakrawala menyusuri lorong-lorong
gang yang sempit untuk bertemu seorang
tokoh perjuangan kisah heroik perlawanan terhadap
penurunan bendera merah putih di gedung Modderlust
di kawasan Ujung Surabaya. Letkol (Purn.) Herio
Suparlan, demikian tokoh pejuang yang masih terlihat
sehat diusianya yang sudah memasuki 87 tahun ini,
dengan mengenakan batik warna biru, siang itu di ruang
tamu yang tertata rapi menceritakan dengan semangat
yang masih tersisa tentang perjalanan perjuangan
dan pertempuran bersama-sama para pemuda
sukarelawan melawan sekutu di kawasan Ujung dan
Ngemplak Surabaya pada awal masa setelah proklamasi
kemerdekaan.
Sebagaimana penuturannya, pada masa pendudukan
Jepang hingga akhirnya Indonesia merdeka pada
tanggal 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan oleh
Soekarno Hatta, namun kondisi di Surabaya masih
dikuasai oleh Jepang khususnya persenjataan di
Kawasan Ujung Surabaya. Daerah Ujung yang saat itu
masih berupa perkampungan, diantaranya bernama
kampung Wonokerto merupakan tempat lahir dan
dibesarkannya pemuda Herio Suparlan.
Diusianya yang masih remaja (saat itu 18 tahun),
pemuda Herio bergabung dengan organisasi pemuda
sukarelawan yang saat itu belum memiliki nama, namun
sama-sama memiliki satu tekad untuk membela dan
mempertahankan negara Indonesia dari segala bentuk
penjajahan. Para pemuda pejuang yang tergabung
dalam organisasi pemuda sukarelawan tersebut
umumnya berasal dari beberapa sekolah pelayaran,
antara lain di Jakarta, Semarang dan Makasar, yang
kemudian sebagian kembali untuk berjuang di kampung
halamannya Surabaya sebanyak kurang lebih 40 orang.
Dalam aksinya para pemuda sukarelawan berjuang
dengan mengadakan perebutan senjata di gedunggedung bekas markas Jepang dan perebutan terhadap
beberapa kapal perang, diantaranya kapal tunda yang