Perhatikan firman Allah:
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat
kerusakan di (muka) bumi”. (QS. al-Qashash:83)
Riya’ atau kesombongan, sering dilukiskan mengenai hal yang
menyangkut ketinggian. Mengenai ini, seorang penyair
mengatakan ungkapan yang kontras berikut..
Orang yang berhasil menakhlukkan jiwanya
Adalah orang yang telah menghidupkannya dan menjadikannya
tenang
Dia akan tidur dengan nyenyak
Toh, bilapun angin berhembus kian kencang..
Yang diterpa tetaplah bagian pepohonan yang tingg-tinggi, bukan?
Perhatikan hadits berikut,
‘’Barangsiapa berlaku riya’, maka Allah akan bersikap riya’
kepadanya. Dan barangsiapa menginginkan kemasyhuran, maka
Allah pun akan memamerkan kemasyhuran-Nya kepadanya’’ (AlHadits).
Dan Allah berfirman mengenai hal ini..
‘’Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia’’. (QS.
an-Nisa’:142)
‘’Dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum
mereka kerjakan’’. (QS. Ali Imran, 188)
‘’Dan, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar
kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada
manusia’’. (QS. al-Anfal: 47).
Seorang penyair, akhirnya mengemukakan pandangan yang khas
tentang riya’.
Pakaian riya’ menggambarkan apa yang ada di baliknya.
Jika memakainya, sebenarnya..engkau sedang telanjang!
Subhanallah..
Semoga Allah menganugerahkan kita keutamaan. Melindungi kita semua dari penyakit riya’ yang
mencelakakan. Dan, marilah kita senantiasa menjaga diri dari hal yang tidak bermanfaat dalam
kehidupan.
[Jon. Sumber: Aidh Al Qarni, ‘’La Tahzan’’ (Jangan Bersedih!), Terjemah S. Rahman, Qisthi Press,
2004]
al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014
35