A & O Edisi V Mar 2019 Salutogenesis | Page 19

Bahkan, ia menggunakan ketidaktahuannya sebagai sarana untuk mengembangkan diri dan meningkatkan pengetahuan serta keahliannya.

Dimasa dimana informasi mudah didapat seperti sekarang ini, banyak orang merasa bahwa dirinyalah yang paling benar. Masing-masing hanya mencari dan mau tahu dengan kebenaran yang diyakininya. Hal ini justru menjadi paradoks dari kemudahan mencari informasi. Kemudahan mengakses informasi ternyata tidak membuat kita belajar dan mengembangkan diri, namun justru membuat kita semakin menjadi katak dalam tempurung. Dalam situasi seperti inilah kesalahpahaman dan konflik berkembang. Masing-masing pihak merasa paling benar dan tidak ada yang bersedia mengoreksi diri. Hal demikian justru akan menimbulkan penyangkalan akan kebenaran yang terjadi karena kebenaran tersebut diluar pendapat dan keyakinan seseorang.

Lewat kerendahan hati intelektual, hal ini dapat dihindari. Kerendahan hati intelektual menghasilkan partisipasi konstruktif dan lebih manusiawi dalam menyelesaikan berbagai masalah serta kesalahpahaman yang tidak perlu, karena kerendahan hati intelektual tidak mementingkan monopoli kebenaran.

Lalu mengapa kerendahan hati intelektual dapat menjadi solusi dari berbagai masalah? Menurut Kudashov dan Mosienko (2018), kerendahan hati terkait dengan sifat-sifat seperti mengampuni, kejujuran, rasa berterima kasih, dan kerjasama. Selain itu, orang yang memiliki sifat rendah hati lebih sehat secara psikologis. Hal ini kemungkinan karena kerendahan hati berkaitan dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan kesehatan, seperti kemampuan untuk mengampuni dan rasa berterima kasih. Lebih lanjut, sifat rendah hati juga berkaitan dengan kesuksesan, terutama dalam hal manajerial dan kemampuan berpikir. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika orang yang rendah hati adalah orang yang baik dan menarik dimata orang lain.

(Christi)

19 A & O V/Mar 19