Digital publication | Page 19

Keadaan yang demikian melahirkan para oligarki di Rusia dan masuknya IMF yang semakin memperkeruh keadaan ekonomi Rusia. Dikatakan bahwa ekonomi Rusia merosot tajam hingga 40 persen dan kemiskinan meningkat 50 persen. Joseph Stiglitz peraih nobel ekonomi tahun 2001, menulis dalam bukunya Globalisation and Its Discountent, bahwa Rusia merupakan salah satu korban IMF.

Di era tersebut Rusia yang menggaungkan semangat demokrasi dan ekonomi pasar, terus menciptakan berbagai kekuatan oligarki yang merambah pada swastanisasi sumber daya alam. Dalam bukunya The Logic of Economic Reform in Russia, Jerry Hough juga menambahkan bahwa perilaku koruptif dan implementasi kebijakan pasar yang terburu-buru adalah pusat dari krisis ekonomi yang terjadi di Rusia. Keadaan tersebut membuat pemerintahan Rusia mendapat anti-trust dari masyarakat, hingga seorang eks. KGB hadir membawa pertumbuhan luar biasa dan membuat Rusia menjelam sebagai negara kuat.

Dialah Vladimir Putin yang datang dengan berbagai dukungan besar dari rakyat yang tersiksa dari kemiskinan, Ia menitikberatkan kebijakan ekonomi yang tegas untuk memanjakan masyarakatnya dengan stabilitas dan kemakmuran. Tahun 2013 Rusia miliki cadangan devisa mencapai 527.7 Milyar dollar (2013, rate 7% per tahun). Logika demikianlah yang menjadikan masalah utama Rusia bukanlah karena Rusia dikeliling oleh musuh-musuhnya dari berbagai penjuru dunia. Dalam pidatonya Putin berbicara bahwa negara barat menginginkan kejatuhan Rusia, itulah yang terjadi di tahun 1990an munculnya barat serta IMF terhadap ekonomi Rusia. keadaan Rusia yang bangkit dan kuat seperti saat inilah yang membuat popularitas Putin begitu kuat di Rusia, setiap wilayah bahu membahu membantu pemerintah. Sehingga Rusia memfokuskan pada basis ekonomi, karena hal itulah tekanan eksternal yang besar tidak mempengaruhi masyarakatnya.

LALU MENGAPA MASIH MENGATAKAN DEMOKRASI

?

Dalam wawancara Republika tahun 2012 dengan Putin, secara tegas Ia mengatakan bahwa Rusia adalah negara demokrasi bukan dijalankan dengan sistem otoriter. Secara subjektif saya berpandangan bahwa Rusia membungkus kebijakan yang terkadang tidak bebas dengan demokrasi. Tanpa dipungkiri bahwa selesainya perang dunia menyisahkan garis antara blok barat dan blok timur, dimana dikatakan bahwa blok barat adalah mereka (kelompok) yang menghargai hak asasi manusia sedangkan Rusia eks. Komunis dengan serangkaian penyelewengan hak asasi manusia menjadi pantauan dalam perkembangan modern saat ini.

Senjata terampuh yang disasarkan untuk menggoyang dominasi Rusia adalah issue hak asasi manusia, peristiwa MH-17 merupakan alasan emas yang memperkuat argumentasi Amerika dan lainnya bahwa apapun tindakan Rusia terhadap Crimea adalah salah. Demokrasi ala Rusia juga menjadi demokrasi ala Putin, cara Putin menguasai pemerintahan juga menjadi sorotan. Kebijakan Putin diantaranya meningkatkan Electoral Threshold dari 5 persen menjadi 6 persen,

keputusan ini secara tidak langsung memangkas partai gurem (pro-liberal Barat) yang ada di Rusia.

Tahun 2013 Putin mengeluarkan keputusan untuk membubarkan dua kantor berita terbesar Rusia RIA Novosti dan Voice of Russia (Radio Rusia), hal ini menegaskan kontrol pemerintah terhadap media di Rusia.Masyarakat Rusia lebih banyak untuk tidak mempermasalahkan setiap kebijakan Putin yang memangkas sebuah hak dari warga negara juga kebebasan berpendapat. Kepercayaan dan keyakinan muara dari kebijakan Putin adalah peningkatan ekonomi menjadi kekuatan yang membuat barat kelimpungan menjatuhkan popularitas dari kebijakan Putin di negaranya. Rusia yang demokratis memang menjadi harapan besar bagi yang lain, namun kehebatan diplomasi Vladimir Putin lagi dan lagi membuat semua seakan tidak bergeming. Sebut saja Indonesia, pertemuan perdana Joko Widodo dengan Vladimir Putin adalah penguatan investasi, bahwa sesungguhnya pemerintahan Joko Widodo yang berencana meningkatkan pembangunan besar akan membutuhkan investor.

Vladimir Putin datang menyambut dengan suka cita, tahun 2015 kurang lebih ada 50 orang pelajar Kalimantan yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Rusia sebagai keseriusan untuk proyek rel kereta apa yang akan dibangun di Kalimantan.

18